top of page
Selamat datang di PENDALAMAN IMAN
Pendalaman iman secara online adalah penambahan pengetahuan tentang Yesus Kristus dalam Kitab Suci Injil Perjanjian Baru, sebagai persembahan dari Wilayah Maria Bunda Karmel, Paroki Katedral, Keuskupan Denpasar.

Pendalaman Iman Katolik adalah sebuah wadah untuk mendalami ajaran dan kehidupan iman Katolik. Kami menyediakan beragam materi dan sumber belajar yang dapat membantu umat Katolik dalam memahami dan memperdalam iman mereka.


INJIL MATIUS
RINGKASAN INJIL MATIUS
Injil Matius menceritakan kisah Yesus sang Mesias yang silsilah dan kelahirannya yang ajaib merupakan tanda dan janji bahwa “Allah menyertai kita” (1:23). Yesus sang Mesias memberitakan kedatangan pemerintahan Allah yang adil dalam kata-kata berkat dan tindakan penyembuhannya. Yesus memanggil para pengikut-Nya untuk mengalami belas kasihan Allah secara baru, menjadikan mereka sebagai komunitas iman yang baru, dan kemudian, sebagai Mesias yang disalibkan dan dibangkitkan, mengklaim semua kuasa dan wewenang ketika Ia menugaskan murid-murid ini untuk misi dengan janji bahwa Ia akan bersama mereka sampai nanti. akhir zaman (28:18-20).
JADI APA?
Injil Matius penting karena mengandung konsepsi agung tentang Allah yang datang untuk mengklaim dan memanggil umat di dalam Yesus sebagai Mesias. Janji kehadiran Tuhan membingkai dan menafsirkan keseluruhan kisah Yesus sebagai Mesias. Janji ini memanggil orang-orang untuk menjadi pemuridan, membentuk komunitas baru yang dibentuk dan hidup berdasarkan pengampunan Tuhan. Khotbah di Bukit mewartakan kepada murid-murid Yesus tentang berkat Tuhan bagi umat yang menjadi garam dan terang bagi dunia. Ini adalah orang-orang yang merasakan pesan mengejutkan dari kerajaan sebagai seperti harta karun yang tersembunyi di ladang dan yang dalam kegembiraan karena menemukannya pergi dan menjual segalanya untuk mendapatkan harta karun tersebut. Orang-orang seperti itu terkejut ketika menemukan Tuhan yang menginginkan belas kasihan dan bukan pengorbanan, dan memanggil mereka untuk hidup secara bertanggung jawab sebagai komunitas baru yang diberdayakan oleh kehadiran hidup Mesias Tuhan. Matius menambahkan banyak perumpamaan Yesus yang membantu pembaca membayangkan kehidupan baru ini; untuk melihat apa artinya hidup sebagai orang yang sering “lelah dan memikul beban berat,” namun dipanggil untuk mengalami janji ketentraman dari Juruselamat yang “lemah lembut dan rendah hati” (11:28-30) ; dan kemudian hidup sebagai orang yang percaya pada belas kasihan itu dan melimpahkannya secara cuma-cuma kepada orang-orang yang dipanggil untuk mereka layani (lihat 25:31-46; 28:18-20).
DIMANA SAYA MENEMUKANNYA?
Matius adalah buku pertama dalam Perjanjian Baru, yang pertama dari empat Injil.
SIAPA YANG MENULISNYA?
Seperti semua Injil, Injil Matius tidak menyebutkan nama penulisnya di dalam teks itu sendiri. Pada awal tradisi Kristen, Injil ini dikaitkan dengan Matius sang pemungut cukai. Bahkan tradisi-tradisi selanjutnya mengklaim bahwa penulisnya mengumpulkan perkataan Yesus dalam “dialek Ibrani” untuk diterjemahkan oleh orang lain. Tradisi terakhir yang dilestarikan oleh sejarawan gereja Eusebius, yang ditulis pada abad keempat M, sulit dicocokkan dengan teks yang ditulis dalam bahasa Yunani yang fasih. Matius sepertinya mengadaptasi dan melengkapi Injil Markus, dengan penekanan khusus pada hubungannya. Yesus dengan Kitab Suci dan tradisi Yahudi. Konflik yang ditunjukkan Matius dengan orang-orang sezamannya di Yudea telah menyebabkan beberapa pakar berpendapat bahwa penulisnya berasal dari sekte Yahudi, mirip dengan sekte yang menghasilkan Gulungan Laut Mati.
KAPAN DITULIS?
Tanggal tepatnya penulisan Matius tidak jelas, dan para ahli memperkirakan bahwa banyak tanggalnya berasal dari paruh kedua abad pertama. Banyak ahli percaya bahwa Matius menggunakan Injil Markus, yang tentu saja memberi tanggal pada Injilnya setelah penulisan Markus. Sayangnya, penanggalan Markus juga tidak pasti, jadi penanggalan umum antara tahun 60-100 M mungkin adalah perkiraan yang paling mendekati. Teks Matius tampaknya telah digunakan oleh Didache, sebuah dokumen Kristen mula-mula, dan oleh Ignatius, Uskup Antiokhia, yang menulis sekitar tahun 110 M.
APA ITU?
Injil Matius memberitakan kabar baik bahwa Yesus adalah Imanuel (“Allah menyertai kita”). Sebagai Mesias dari Tuhan, Yesus memanggil para pengikutnya untuk bergabung dalam komunitas yang berpusat pada ajaran-Nya. Penyembuhan, penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus memberdayakan komunitas ini dengan otoritas untuk keluar dan memberitakan Injil Yesus ke semua bangsa.
BAGAIMANA SAYA MEMBACANYA?
Pembaca Matius yang cermat pasti ingin membacanya sambil merefleksikan apa yang diungkapkan narasi tersebut secara keseluruhan tentang hakikat pesan Injil tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Pembaca harus mengingat bahwa Matius adalah bagian dari percakapan dengan Injil-injil lain dan tradisi-tradisi Yudaisme pada akhir abad pertama, khususnya seputar isu-isu hukum dan kebenaran, dan keyakinan bahwa Yesus dari Nazaret adalah Mesias yang dijanjikan. Israel. Silsilah awal yang menempatkan Yesus secara kokoh dalam tradisi Israel sebagai anak Abraham dan Raja Daud, dan pengumuman malaikat mengenai silsilah-Nya sebagai “penyelamat umat-Nya” (1:21) perlu dicatat dan ditekankan baik untuk inisiasi mereka. narasi dan sebagai ciri khas pesan khusus Matius. Hal yang sama pentingnya adalah kerangka sastra dari narasi tersebut dengan pernyataan bahwa Allah berdiam bersama umat-Nya dalam pribadi Yesus dan bahwa Yesus adalah Mesias yang telah bangkit (lihat 1:23 dan 28:18-20). Kehadiran Tuhan itu tentu saja merupakan bagian dari pengakuan utama Yesus sebagai “Mesias, Anak Allah yang hidup” yang diucapkan Petrus sebagai wakil masyarakat (16:16). Kehadiran Allah ditandai dengan tema umum kerajaan Allah di dalam Yesus, yang menurut kabar baik versi Matius, ditandai dengan belas kasihan dan pengampunan (lihat doublet 9:13 dan 12:7) yang datang secara berlimpah. sebagai berkat dan kejutan bagi umat Allah (lihat 5:1-16; 16:17; 19:30-20:16; dan 25:31-46).
GARIS BESAR INJIL MATIUS
1. Gelar dan Narasi Kelahiran (Matius 1:1-2:23)
Pendahuluan, yang unik dalam Injil Matius, mengumumkan Yesus sebagai Mesias dari Allah, menghubungkan kisah-Nya dengan janji-janji Allah dalam diri Abraham dan Daud, dan menyuarakan tema-tema khas Injil.
A. Silsilah (Matius 1:1-17)
Dalam struktur rangkap tiga yang masing-masing terdiri dari empat belas generasi, silsilah Yesus dihubungkan dari Abraham melalui Daud hingga Yusuf, suami Maria.
B. Kelahiran Yesus di Betlehem (Matius 1:18-25)
Dikenal sebagai “anak Daud,” Yusuf dengan patuh mematuhi perintah malaikat untuk mengambil Maria sebagai istrinya dan menamai putranya Yesus sebagai tanda bahwa ia akan menjadi penyelamat dan Imanuel, yang menandai kehadiran Allah.
C. Kunjungan Orang Majus (Matius 2:1-12)
Cakupan kabar baik yang bersifat global dan kosmis ditandai oleh orang-orang bijak yang ditarik oleh sebuah bintang untuk menyembah Yesus, sementara Raja Herodes hanya melihat ancaman dan sudah merencanakan untuk menyingkirkannya.
D. Pelarian ke Mesir dan Kembali (Matius 2:13-23)
Sekali lagi diperingatkan oleh malaikat dalam mimpi, Yusuf dengan patuh melarikan diri bersama bayi Yesus dan ibunya ke Mesir untuk menghindari pembantaian bayi-bayi oleh Herodes; mereka kembali ke Nazareth ketika bahaya sudah berlalu.
2. Pelayanan Yesus di Galilea: Persiapan (Matius 3:1-4:22)
Khotbah dan baptisan Yohanes, pengujian Yesus di padang gurun, dan khotbah awal Yesus serta panggilan para murid, semuanya mempersiapkan narasi kunci dari pelayanan Yesus di Galilea.
A. Khotbah Yohanes (Matius 3:1-12)
Yohanes muncul di padang gurun menyerukan pertobatan dan membaptis orang-orang sebagai persiapan kedatangan kerajaan “yang lebih berkuasa” yang akan membaptis dengan Roh Kudus.
B. Pembaptisan Yesus (Matius 3:13-17)
Meski awalnya enggan, Yohanes bersedia membaptis Yesus untuk “menggenapi seluruh kebenaran,” sementara suara dari surga mengumumkan keridhaan Allah terhadap Putra terkasih ini.
C. Yesus Diuji Iblis di Padang Gurun (Matius 4:1-11)
Yesus dipimpin oleh Roh ke padang gurun dimana dia menunjukkan ketaatan dan kepercayaannya pada firman Tuhan dalam menghadapi tiga ujian serangan iblis.
D. Yesus Memulai Pelayanan-Nya di Galilea (Matius 4:12-17)
Setelah penangkapan Yohanes, Yesus memulai pelayanannya di Galilea sebagai penggenapan nubuat mengenai “terang terbit di dalam kegelapan”; dia secara tematis menyerukan pertobatan karena “kerajaan surga sudah dekat.”
E. Panggilan Murid Pertama (Matius 4:18-22)
Dalam adegan paralel Yesus memanggil dua kelompok saudara nelayan untuk mengikuti Dia, dan mereka segera meninggalkan segalanya untuk mengikuti Dia.
3. Pelayanan Yesus di Galilea: Pemberitaan dalam Perkataan dan Perbuatan (Matius 4:23-9:38)
Seperti narasi kelahiran, bagian narasi ini disusun secara cermat untuk mengungkapkan Yesus sebagai Mesias dalam perkataan dan perbuatan (lihat 11:4-5). Ringkasan pembingkaian meliputi dua bagian utama, bagian pertama berfokus pada Yesus sebagai guru, dan bagian kedua berfokus pada Yesus sebagai penyembuh segala penyakit.
A. Ringkasan Pembingkaian: Mengajar, Memberitakan, Menyembuhkan Segala Penyakit (Matius 4:23-25)
Yesus pergi “ke seluruh Galilea” untuk mengajar, memberitakan kabar baik, dan menyembuhkan “setiap penyakit” sehingga ketenarannya menyebar dan banyak orang mengikutinya.
B. Pelayanan dalam Firman: Khotbah di Bukit. Ceramah Pertama (Matius 5:1-7:29)
Duduk di atas gunung dan dikelilingi oleh orang banyak, Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya dan mengumumkan dengan penuh wibawa berkat Allah yang menyerukan komunitas garam dan terang baru yang pendengaran dan perbuatannya menyatu dalam kebenaran jenis baru. Ini adalah khotbah pertama dari lima khotbah utama Yesus dalam Matius (lihat 7:28-29).
C. Pelayanan dalam Perbuatan: Siklus Sembilan Mukjizat (Matius 8:1-9:34)
Khotbah Yesus di Bukit kini diikuti dengan narasi yang disusun secara cermat mengenai tiga siklus tiga mukjizat: Yesus menyembuhkan seorang penderita kusta, hamba seorang perwira, dan ibu mertua Petrus; meredakan badai dan menyembuhkan dua orang yang kerasukan setan dan seorang lumpuh; akhirnya, Yesus menyembuhkan seorang wanita yang menyentuh pakaiannya bersama dengan seorang gadis muda yang telah meninggal, dua orang buta, dan seorang kerasukan yang juga bisu. Setiap siklus diselingi dengan cerita panggilan tentang mengikuti Yesus.
D. Ringkasan Pembingkaian: Mengajar, Memberitakan, Menyembuhkan Segala Penyakit (Matius 9:35-38)
Rangkuman yang dirangkai mengulangi tema pengajaran, khotbah, dan penyembuhan Yesus, namun sekarang dengan rujukan peralihan pada belas kasihan Yesus terhadap orang banyak yang seperti domba tanpa gembala dan yang menunjuk pada janji “panen yang berlimpah.”
4. Panggilan dan Misi Para Murid. Ceramah Kedua (Matius 10:1-42)
Mengingat masa panen, Yesus kini memanggil murid-murid-Nya dan mengutus mereka dalam misi seperti “domba ke tengah-tengah serigala,” memperingatkan mereka tentang bahaya dan pahala dari kesetiaan memikul salib dan kehilangan nyawa demi Yesus. Ini adalah khotbah Yesus yang kedua dalam Injil (lihat 11:1).
5. Pertanyaan Yohanes dan Konflik yang Terjadi (Matius 11:1-12:45)
Ketika Yohanes mengutus murid-muridnya untuk mempertanyakan apakah Yesus benar-benar Mesias yang diharapkan, Yesus meminta mereka untuk memberi tahu Yohanes apa yang mereka “dengar dan lihat” dan menyebut “berbahagialah” orang-orang yang tidak tersinggung pada-Nya. Keterkaitan antara tema berkat (“datanglah kepadaku….dan engkau akan mendapat ketentraman,” 11:28-30) dan meningkatnya kebencian terhadap Yesus menandai bagian ini (keterangan mengenai pelayanan Yohanes, kesengsaraan bagi mereka yang tidak bertobat, tantangan terhadap Yesus ' penyembuhan pada hari Sabat, tuduhan bahwa dia bersekutu dengan Setan, dan generasi yang hanya akan menerima tanda Yunus).
6. Mengajar dalam Perumpamaan: Kerajaan Surga. Ceramah Ketiga (Matius 12:46-13:58)
Ceramah besar ketiga dalam Matius (lihat 13:53) sekarang berfokus pada ajaran utama Yesus mengenai kerajaan surga, termasuk sejumlah perumpamaan unik dalam Matius. Bagian perumpamaan ini melihat pemahaman tentang kerajaan ini sebagai hal yang penting dalam arti menjadi seorang murid yang telah “dilatih untuk kerajaan.”
A. Ringkasan Pembingkaian: Keturunan Yesus yang Sejati (Matius 12:47-50)
Dalam kerangka transisi, tema berkat dan ketersinggungan ditekankan pada pemahaman tentang saudara sejati Yesus sebagai mereka yang melakukan “kehendak Bapa-Ku.”
B. Perumpamaan Kerajaan : Harta Baru dan Harta Lama (Matius 13:1-53)
Perumpamaan tentang penabur, tentang lalang, tentang biji sesawi, tentang ragi, tentang harta terpendam, tentang seorang saudagar, atau tentang jaring menggambarkan hakikat kerajaan surga, sambil diselingi dengan pembahasan mengenai alasan Yesus berbicara dalam perumpamaan, dan diakhiri dengan komentar tentangnya sebagai kunci pemahaman murid.
C. Ringkasan Pembingkaian: Penolakan oleh Bangsanya Sendiri (Matius 13:54-58)
Sekali lagi mengangkat tema berkat dan ketersinggungan, wacana perumpamaan ini dibingkai dengan mengacu pada respon terhadap ajaran Yesus yang menimbulkan ketersinggungan khususnya di kampung halamannya.
7. Pelayanan di Galilea dan Wilayah Kafir: Pertentangan yang Meningkat (Matius 14:1-15:39)
Pelayanan Yesus di Galilea berlanjut ketika Ia melintasi Danau Galilea dan ketika kisah-kisah mukjizat-Nya mengundang refleksi mengenai respons iman, sementara pada saat yang sama pertentangan dan tantangan terhadap pelayanan dan misi-Nya tampaknya semakin meningkat.
A. Kematian Yohanes Pembaptis (Matius 14:1-12)
Sekali lagi Herodes menjadi ancaman bagi Yesus yang kini mendengar tentang pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis.
B. Memberi Makan Lima Ribu Orang (Matius 14:13-21)
Ketika Yesus mendengar kematian Yohanes, dia menarik diri dan memberi makan lima ribu orang di padang gurun.
C. Yesus Berjalan di Atas Air (Matius 14:22-33)
Yesus datang pada malam hari kepada murid-muridnya yang terkepung dan memanggil Petrus untuk datang kepadanya di atas air. Namun ketika Petrus mulai tenggelam, Yesus menegur mereka karena “kurangnya iman” mereka.
D. Ringkasan: Menyembuhkan Orang Sakit (Matius 14:34-36)
Bahkan ketika iman para murid diuji, banyak orang berbondong-bondong untuk disembuhkan oleh Yesus.
E. Protes Kaum Farisi dan Ahli Taurat: Mengenai Halal dan Najis (Matius 15:1-20)
Orang Farisi dan ahli Taurat memprotes Yesus dan murid-muridnya karena kegagalan mereka mengikuti tradisi. Yesus menanggapinya dengan membahas kemunafikan mereka mengenai hal-hal yang datang dari dalam dan dari hati.
F. Iman Wanita Kanaan (Matius 15:21-28)
Di wilayah non-Yahudi, seorang wanita yang sangat gigih dipuji karena imannya yang besar sehingga putrinya dapat disembuhkan.
G. Ringkasan: Menyembuhkan Orang Sakit (Matius 15:29-31)
Banyak orang kini datang dan disembuhkan sehingga membuat takjub orang-orang yang melihat dan memuji Allah Israel.
H. Memberi Makan Empat Ribu Orang (Matius 15:32-39)
Sekali lagi Yesus memberi makan banyak orang di padang gurun.
8. Pelayanan di Galilea: Pengakuan Petrus dan Ramalan Yesus tentang Sengsara-Nya (Matius 16:1-17:27)
Yesus menolak orang Farisi dan Saduki yang datang meminta tanda. Sebaliknya dia sekarang mempertanyakan murid-muridnya tentang Anak Manusia. Petrus menjawab dengan pengakuan utamanya bahwa Yesus adalah “Mesias, Anak Allah yang hidup.” Yesus menyatakan bahwa pengakuan ini adalah tanda berkat Allah dan batu fondasi bagi gereja-Nya. Dua kali Yesus menubuatkan kedatangannya akan sengsara, kematian, dan kebangkitan. Dia mengajarkan tentang pemuridan seperti memikul salib, dan setelah memimpin murid-muridnya naik ke gunung, dia berubah rupa di hadapan mereka.
9. Ajaran Yesus: Komunitas Pengampunan yang Baru. Ceramah Keempat (Matius 18:1-35)
Khotbah besar keempat Yesus (lihat 19:1) hadir sebagai jawaban atas pertanyaan para murid tentang seperti apa kebesaran kerajaan itu nantinya. Yesus menjawab bahwa hal itu akan seperti kerendahan hati seorang anak yang disambut dalam nama Yesus. Setelah menyadari bahwa Bapa di surga berkehendak agar tidak ada satu pun dari anak-anak kecil ini yang hilang, Yesus menyerukan praktik cinta kasih yang mengampuni yang diberdayakan oleh kehadiran Bapa. Terhadap pertanyaan Petrus tentang seberapa sering seseorang harus mengampuni, Yesus menjawab dengan contoh negatif dari perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni.
10. Pelayanan Yesus di Yudea: Dalam Perjalanan ke Yerusalem (Matius 19:1-20:34)
Yesus telah meramalkan penderitaannya dan sekarang meninggalkan Galilea dan menuju Yerusalem. Dalam perjalanannya dia terlibat dalam pengajaran tentang pemuridan dalam berbagai persoalan: tentang perceraian, tentang pemberkatan anak, tentang menaati perintah, tentang bahaya kekayaan dan tentang pahala dari pemuridan. Perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur, yang menggarisbawahi kemurahan hati Allah, secara jelas dibingkai oleh tema kunci dalam pemahaman Matius tentang kerajaan: “yang terakhir akan menjadi yang terdahulu, dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir” (20:16; lihat juga 19:30); Hal ini segera disusul dengan ramalan Yesus yang ketiga dan terakhir mengenai sengsara, kematian, dan kebangkitan-Nya. Di Yerikho, di ambang Yerusalem, Yesus, “Anak Daud,” menaruh belas kasihan kepada dua orang buta yang, setelah sembuh, segera mengikuti Dia.
11. Pelayanan Yesus di Yerusalem sebelum Sengsara (Matius 21:1-23:39)
Yesus memasuki Yerusalem di tengah perayaan yang riuh akan kedatangannya sebagai Anak Daud. Namun pembersihan bait suci yang dilakukannya segera menimbulkan kemarahan para pemimpin, dan mereka menantang otoritas Yesus. Mereka mengenali perumpamaan dua anak laki-laki, perumpamaan penggarap yang jahat, dan perumpamaan pesta perkawinan sebagai perumpamaan tentang diri mereka sendiri. Tanggapan Yesus terhadap pertanyaan-pertanyaan mereka tentang membayar pajak, tentang kebangkitan, dan tentang perintah terutama membungkam mereka, setelah itu Yesus meluncurkan satu bab penuh kesengsaraan terhadap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena kemunafikan mereka.
12. Di Akhir Zaman : Setia Menantikan Anak Manusia. Ceramah Kelima (Matius 24:1-25:46)
Dalam khotbah besar kelima Matius (lihat 26:1), Yesus, ketika duduk bersama murid-murid-Nya di Bukit Zaitun, menjawab pertanyaan para murid tentang kedatangan Mesias. Yesus berbicara tentang perlunya ketekunan dan kesiapan berjaga-jaga menjelang kedatangan Anak Manusia. Ia menggambarkan umat beriman sebagai orang-orang yang “akan ditemukan oleh majikannya ketika ia tiba,” dan memeteraikan ajaran tersebut dengan tiga perumpamaan unik Matius tentang pelaksanaan pemuridan di masa penantian ini: perumpamaan tentang sepuluh pengiring pengantin, tentang talenta, dan tentang penghakiman atas domba dan kambing dengan gambarannya tentang mereka yang dengan setia namun tanpa disadari melayani Anak Manusia dalam pemeliharaan sesamanya.
13. Sengsara Yesus Mesias (Matius 26:1-27:66)
Matius mengikuti narasi Markus tentang sengsara itu tetapi dengan beberapa motif yang berbeda, mencatat pengurapan di Betania, persetujuan Yudas untuk mengkhianati Yesus, perjamuan Paskah, doa di Taman, pengkhianatan dan penangkapan, persidangan di hadapan Imam Besar dan Pilatus. , Penyangkalan Petrus, ejekan para prajurit, penyaliban dan kematian Yesus disaksikan oleh para wanita, penguburan Yesus, dan penempatan penjaga di kubur.
14. Kebangkitan dan Amanat Agung (Matius 28:1-20)
Pada hari pertama minggu itu, gempa bumi dahsyat dan kilat menyambut para wanita yang datang ke makam. Para penjaga menjadi seperti orang mati, sementara malaikat mengumumkan kebangkitan Yesus dan memerintahkan para wanita untuk pergi memberitahu para murid. Dalam perjalanan mereka Yesus sendiri menemui mereka dengan instruksi yang sama. Sementara itu, saat mereka berjalan, para penjaga dibayar agar cerita tetap tenang. Dalam ayat-ayat terakhir Injil, Yesus bertemu dengan para murid di sebuah gunung di Galilea dan dengan wewenang menugaskan mereka untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid, mengajar mereka untuk menaati perintah-perintah-Nya, dan mengingat janji-Nya untuk menyertai mereka sampai akhir zaman. usia.
LATAR BELAKANG INJIL MATIUS
Secara tradisi, Matius adalah Injil yang paling dikenal dan disukai di antara keempat Injil kanonik. Penyajiannya yang unik mengenai Khotbah di Bukit menjadi ciri khas ajaran Yesus bagi banyak orang, baik orang Kristen maupun non-Kristen. Kata-katanya paling sering dijadikan bacaan dalam ibadah di sebagian besar tradisi Kristen dan dengan demikian membentuk narasi pelayanan, kematian, dan kebangkitan Yesus dari Nazaret bagi banyak orang. Dari Injil-Injil yang kita miliki, sebagian besar ahli berpendapat bahwa Markus adalah Injil pertama yang ditulis. Dalam judul pembukanya Markus menggambarkan narasinya, yang mengandung beberapa ciri dari apa yang dapat digambarkan sebagai “biografi” atau “kehidupan” Yesus, sebagai awal dari euaggelion (“Injil” atau “kabar baik”) Yesus Kristus ( Markus 1:1). Markus meminjam istilah ini dari Paulus yang menciptakannya untuk menggambarkan kabar baik bahwa Yesus telah menaklukkan semua kekuatan yang menentang Allah melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Penggunaan “Injil” sebagai sebuah genre kemungkinan besar muncul karena Matius dan “Injil” lainnya mengikuti gaya Markus dan, setidaknya dalam kasus Matius dan Lukas, memasukkan dan mengadaptasi sebagian besar narasi Markus ke dalam narasi mereka sendiri.
Sekitar pertengahan abad pertama, mungkin dipicu oleh Perang Romawi-Yahudi pada tahun 66-70 M, Injil mulai bermunculan, ketika komunitas dan penulis mengubah pernyataan lisan dan kenangan awal tentang Yesus ke dalam bentuk tulisan. Masing-masing narasi Injil ini diciptakan pada waktu dan tempat tertentu oleh seorang penulis yang ingin menyampaikan makna pesan Yesus kepada orang lain. Tidak ada informasi yang tersimpan mengenai latar atau penulis Injil di dalam teks itu sendiri dan nama penulis terkait berasal dari tradisi selanjutnya. Praktek menciptakan latar belakang komunitas yang terperinci untuk Injil, meskipun populer di abad ke-20, sering kali lebih menekankan pada para sarjana yang menciptakan deskripsi tersebut dibandingkan hal lainnya. Apa yang kita ketahui dari Injil adalah sudut pandang penulisnya. Dalam kasus Injil Matius, penulis menunjukkan perhatian yang besar dalam menghubungkan ajaran Yesus dengan kitab suci dan tradisi Israel. Matius berusaha menjelaskan apa artinya menjadi pengikut setia Yesus, yang merupakan Mesias dan penyelamat Allah, dalam kaitannya dengan kabar baik tentang kerajaan Allah yang diproklamirkan oleh Yesus dan oleh para pengikut-Nya dalam nama-Nya.
PERIHAL PENDAHULUAN DALAM INJIL MATIUS
Kelahiran Yesus
Salah satu ciri utama Matius adalah narasi uniknya tentang kelahiran Yesus. Kisah ini mengungkap penggunaan struktur rumit yang digunakan Matius untuk mendukung daya tarik narasi dan kekuatan persuasif serta memanfaatkan motif-motif yang akan terus membentuk narasi Yesus selanjutnya. Narasinya terbagi rapi menjadi beberapa bagian, tidak ada satupun yang dapat diselaraskan dengan cerita yang sangat berbeda dalam Injil Lukas (Lukas 1-2) - sebuah silsilah, kelahiran dan pemberian nama, Herodes dan orang-orang majus, serta pelarian dan kepulangan dari Mesir. Judul pembukaannya mengidentifikasi Injil sebagai sebuah “buku” (biblos) tentang Yesus, yang adalah Mesias dan sekaligus “Anak Abraham” dan “Anak Daud,” sehingga memperkuat narasi Yesus dalam tradisi dan harapan masyarakat. Israel. Silsilah yang terstruktur dengan rumit (Matius 1:2-17) menelusuri asal usul Yesus melalui tiga gerakan kontinuitas dan diskontinuitas, yang berpuncak pada hubungan yang mengejutkan dengan Maria melalui Yusuf. Yusuf dan karakternya yang “benar” adalah fokus dari kelahiran dan nama Yesus (1:18-25). Diinstruksikan oleh malaikat, Joseph dengan patuh mengadopsi “Yesus,” yang berperan sebagai Imanuel, “Allah menyertai kita,” dan Juru Selamat yang “akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” sejalan dengan nubuatan kitab suci. Malaikat, mimpi, dan bintang transparan dalam membimbing tujuan Tuhan, ketika orang bijak datang dari berbagai bangsa untuk menjadi orang pertama yang menyembah raja baru ini, sementara Raja Herodes dan Yerusalem adalah orang pertama yang menyambut kedatangannya dengan kecurigaan dan bahkan ketakutan yang mematikan. (2:1-12). Diperingatkan melalui mimpi dan sesuai dengan nubuatan kitab suci di setiap langkah, Yusuf bersama Maria dan anak itu melarikan diri dari pembantaian anak-anak tak berdosa yang dilakukan Herodes dan, setelah kematian Herodes, kembali untuk tinggal di Nazareth.
Kristologi dalam Matius
Berbicara tentang “kristologi” Matius berarti mengajukan pertanyaan tentang karakter Yesus dalam narasi dan hubungannya dengan penilaian teologis tentang tujuan dan makna hidup, pelayanan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Dalam penilaian ini, berbagai “gelar” Yesus tampak penting, namun tidak semua orang sepakat dalam penilaiannya. Banyak orang telah teryakinkan oleh argumen (Kingsbury) bahwa peneguhan Yesus sebagai “Anak Allah,” meskipun jarang terjadi (4:3, 6; 8:29; 14:33; 16:16; 26:63; 27:40, 43), merupakan inti dari Matius dan bahwa gelar-gelar lain untuk Yesus, seperti “Anak Daud”, “Kristus” (atau “Mesias”), “Hamba”, atau “Tuan” adalah bawahan dan penafsirannya. . Gelar “Anak Manusia”, meskipun sangat jarang, nampaknya merupakan sebuah kasus khusus, karena gelar tersebut hampir secara eksklusif hanya digunakan sebagai sebutan diri oleh Yesus. Tidak semua orang yakin, terutama mengingat fakta bahwa, kecuali pengakuan Petrus, sebagian besar penggunaan gelar “Anak Allah” diucapkan oleh iblis atau para pencemooh Yesus. Sebaliknya, gelar “Mesias” (Christos) sangat sering muncul dalam Matius. Ini membuka Injil Matius dan mengidentifikasi Yesus dengan harapan yang terkait dengan leluhurnya, Raja Daud. Lima kali gelar tersebut diulangi dalam narasi kelahiran Matius (1:1, 16, 17, 18; 2:4) sehingga bagi pembaca narasi tetap menjadi identitas utama Yesus sepanjang pelayanannya di Galilea. Hal ini terjadi lagi ketika, setelah narasi pengajaran dan pelayanan penyembuhan Yesus, Yohanes Pembaptis bertanya-tanya apakah Yesus benar-benar Mesias yang diharapkan (11:2). Tanggapan Yesus menghubungkan peran Mesias dengan apa yang Yohanes “dengar dan lihat” dalam pelayanan Yesus. Petrus, sebagai wakil para murid, membuat pengakuan utama Injil dalam penegasannya bahwa Yesus adalah Mesias (16:16). Di sana, dapat dikatakan, “Anak Allah yang hidup” melengkapi dan menafsirkan identitas Yesus sebagai Mesias. Yesus menerima pengakuan itu sebagai tanda wahyu Tuhan, dan sejak saat itu dalam cerita, peran Yesus sebagai Mesias diarahkan pada penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Yang terakhir, dalam referensi terakhir mengenai Yesus, Yesus sang Mesias dinyatakan layak mati dan menggenapi takdir raja baru Allah (26:63, 68).
Gereja?
Matius menulis Injilnya untuk menyatakan Yesus sebagai Mesias dan untuk memanggil orang lain agar taat dalam pelayanan dan misi dalam namanya. Matius adalah satu-satunya dari empat Injil yang menggunakan kata Yunani ekklesia untuk menunjuk komunitas pengikut Yesus. Kata ekklesia secara harafiah berarti “pertemuan” atau “pertemuan”, dan merupakan kata Yunani yang umum untuk menunjuk pada komunitas orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama. Kata ini juga digunakan oleh para penerjemah Septuaginta dalam bahasa Yunani untuk menunjuk “pertemuan” umat Israel di Bait Suci. Matthew mungkin memanfaatkan referensi ganda ini. Terjemahan umum bahasa Inggris “gereja” adalah sebuah anakronisme, yang memproyeksikan realitas selanjutnya tentang gerakan Kristen kembali ke dunia Matius. Referensi pertama mengenai pertemuan ini muncul bersamaan dengan puncak pengakuan Petrus akan Yesus sebagai Mesias (16:16-19). Yesus memuji pengakuan Petrus sebagai tanda pewahyuan berkat Allah. Dia lebih lanjut mengumumkan bahwa berdasarkan pengakuan ini dia akan membangun majelisnya dan menugaskan komunitas ini dengan kekuatan kunci dan otoritasnya untuk menjalankan kasih Tuhan yang mengampuni. Pemunculan kedua kata ini (18:15-18) muncul secara signifikan dalam salah satu khotbah utama Matius tentang Yesus, yang semuanya berfokus pada pengajaran Yesus tentang komunitas baru murid-murid-Nya. Di sini Yesus sekali lagi memberikan instruksi kepada masyarakat mengenai perlunya melakukan pengampunan agar tidak ada “anak-anak kecil” Allah yang hilang. Dalam 11:28-30 Yesus memanggil semua pendengarnya untuk datang kepada-Nya guna menemukan ketenangan bagi jiwa mereka. Dalam 12:46-50 ia mengidentifikasi mereka yang merespons sebagai bagian dari keluarga baru, yaitu mereka yang taat pada kehendak Bapa di surga. Di sepanjang Injil, selain dua referensi khusus ini, Matius membayangkan keluarga Yesus sebagai komunitas pengikut yang taat, yang pada akhir Injil ditugaskan untuk terus melaksanakan pelayanan Yesus dalam menjadikan murid di antara segala bangsa.
Hubungan Matius dengan Yudaisme
Secara tradisi, Matius sering disebut sebagai “Injil Yahudi,” sebagian karena motif Yahudi yang mudah dikenali: perhatian terhadap nubuatan kitab suci, perwujudan harapan Yahudi dalam Yesus sebagai Mesias sebagai Anak Daud, dan kepedulian terhadap hukum dan kebenaran. Pada saat yang sama, para pembaca juga telah mencatat banyak materi yang tampaknya sangat bersifat “anti-Yahudi”: Yesus berulang kali menegur ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena kemunafikan mereka, sikap antagonisme mereka terhadap pelayanan Yesus, dan peran mereka dalam gairah dan kematian Yesus. Oleh karena itu, sebagian besar orang akan melihat Matius menulis kepada orang-orang yang sedang menegosiasikan hubungan mereka dengan Yudaisme dan mencoba memahami bagaimana wahyu baru Yesus mengubah kehidupan keagamaan mereka. Matius mengikuti jejak Paulus, yang juga bergumul dengan ketegangan antara akar Yahudi dan keyakinannya bahwa Yesus adalah Mesias. Selain itu, kedua penulis bergumul tentang bagaimana komitmen terhadap misi di dunia yang lebih luas dapat diselaraskan dengan komitmen Tuhan terhadap umat Israel. Meskipun Paulus dan Matius bergumul dengan pertanyaan yang sama, sebagian besar setuju bahwa Matius menjawabnya dengan cara yang berbeda.
Para murid dalam Matius
Sebagai perwakilan komunitas baru para pengikut Yesus, penggambaran para murid adalah ciri utama Injil Matius (kata Yunani untuk “murid” secara khusus digunakan sebanyak 75 kali dalam Injil). Pada awal pelayanannya Yesus memanggil murid-muridnya untuk segera “mengikuti” dia. Sama seperti Yusuf, meskipun tidak digambarkan sebagai seorang “murid”, yang terkenal karena ketaatannya terhadap perintah malaikat, demikian pula Matius menggambarkan para murid sebagai orang-orang yang patuh mengikuti Yesus. Berbeda dengan narasi Markus, murid-murid Matius “memahami” ajaran Yesus (bandingkan, misalnya, adaptasi Matius terhadap Markus 8:21 dalam Matius 16:8). Ketika Markus menunjukkan kurangnya iman para murid, Matius mengadaptasi narasinya untuk berbicara kepada murid-muridnya, kepada “kamu yang kurang percaya” (empat kali dan hanya dalam Matius istilah ini digunakan: 6:30; 8:26; 14: 31; 16:8). Di antara murid-murid ini, Petrus berdiri sebagai wakil khusus, terutama ditekankan dalam Matius dengan penambahan materi baru (14:28-31; 16:16-19; 18:21-22; lihat “Petrus” di bawah Tema Teologis).
Menariknya, kelima khotbah utama Yesus dalam Matius ditujukan dan mendefinisikan pemuridan sejati. Pengajaran kunci Yesus mengenai kebenaran kerajaan dalam Khotbah di Bukit (5:1) menggambarkan murid-murid yang dengan patuh menanggapi kehendak Allah dalam pendengaran dan perbuatan (7:21-27; 12:50). Yesus memanggil dan mengutus murid-murid-Nya dalam misi dengan janji imbalan atas kesetiaan mereka (10:1-42). Sebagai penerima ajaran khusus Yesus dalam perumpamaan (13:1-53), para murid diberkati, dan setelah “dimuridkan” untuk kerajaan siap untuk mengeluarkan dari perbendaharaan mereka barang-barang baru dan lama (“murid” adalah kata Yunani harafiah di belakang bahasa Inggris “terlatih,” 13:52; dari Injil hanya Matius yang menggunakan kata ini sebagai kata kerja). Di akhir Injil, Yesus memerintahkan murid-muridnya untuk pergi dalam nama-Nya dan menjadikan semua bangsa murid-Nya (28:18-20). Sambil menantikan kembalinya Anak Manusia, murid-murid ini diimbau untuk secara bertanggung jawab menerapkan belas kasihan Allah yang penuh pengampunan (18:1-35) dan ketaatan kasih terhadap sesama (22:39; 24:1-25:46 ).
Ceramah Yesus
Pada abad kedua M, struktur sastra Matius menimbulkan kesan bahwa Injilnya terdiri dari lima “kitab”, mungkin meniru Pentateukh, dengan tujuan menampilkan Yesus sebagai guru baru seperti Musa dalam penafsiran ulangnya terhadap hukum Yahudi ( daging asap). Memang benar, lima kali Matius menyajikan khotbah-khotbah utama tentang Yesus, semuanya ditujukan kepada murid-murid Yesus dan dengan jelas digambarkan melalui suatu kesimpulan yang dirumuskan: “Setelah Yesus selesai mengatakan hal-hal ini” (7:28; 19:1; 26:1; lihat juga 11:1; 13:53). Meskipun pidato-pidato tersebut mengandung beberapa materi tradisional, rumusan, isi, dan integrasi tematiknya dalam narasi Matius mengidentifikasi khotbah-khotbah tersebut sebagai bagian dari perspektif khusus Matius. Setiap formula berfungsi sebagai transisi, menunjuk kembali pada kata-kata Yesus dan menghubungkan kata-kata-Nya dengan visi pemuridan yang terungkap. Khotbah di Bukit (5:1-7:29), khotbah yang paling familiar dan pengajaran eksplisit pertama Yesus dalam Injil, menyajikan ajaran Yesus yang berotoritas tentang kebenaran kerajaan yang terlihat dalam “pendengaran” dan “pendengaran” yang taat. melakukan” yang memenuhi hukum. Dalam Ceramah Misionaris (10:1-42) Yesus secara resmi memanggil murid-murid-Nya dan menugaskan mereka untuk meniru seruan-Nya untuk bertobat dalam terang kerajaan, berkhotbah dan menyembuhkan dengan otoritas-Nya. Dalam Perumpamaan Kerajaan (13:1-52) ia menunjuk pada harta terpendam kerajaan, yang disamarkan oleh kehadiran kejahatan di zaman sekarang, namun diberikan kepada mata murid untuk melihat. Wacana Komunitas Baru (18:1-35) menggambarkan kehendak Tuhan agar tidak satu pun dari anak-anak kecil ini yang hilang dari kerajaan dan menyerukan penerapan pengampunan yang ketat demi kepentingan kerajaan. Yang terakhir, dalam Khotbah Penghakiman yang penutup (24:1-25:46) Yesus memanggil komunitas murid untuk berjaga-jaga dengan penuh percaya diri dan ketaatan dalam memperhatikan sesama sambil menunggu kembalinya Anak Manusia.
Menggandakan
Banyak pembaca yang memperhatikan kecintaan Matthew dalam menyajikan sesuatu secara ganda. Dalam banyak kesempatan, pengulangan narasi seperti itu memerlukan perhatian khusus atau menekankan tema atau motif utama. Terkadang pengulangannya berupa frasa atau ucapan yang menghadirkan tema khusus Matius. Misalnya, dua kali Yesus berkata, “Aku menginginkan belas kasihan, bukan pengorbanan” (9:13; 12:7). Dalam melakukan hal ini Matius menambahkan sebuah komentar berdasarkan Hosea 6:6 yang secara efektif mengaitkan pernyataan Yesus tentang kedatangannya untuk memanggil bukan orang benar melainkan orang berdosa dengan motif Alkitab mengenai kasih setia dan kemurahan Allah. Dua kali ia menggunakan ungkapan “Yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu” (19:30; 20:16), namun mungkin dengan klausa yang dibalik. Kali ini frasa tersebut secara harfiah membingkai komponen khas Matius dalam ajaran Yesus, yaitu perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur (19:30; 20:16), sekali lagi dengan penekanan khusus pada kebenaran sehubungan dengan kemurahan hati Allah yang mengejutkan. Dua bagian ringkasan tentang pengajaran, khotbah, dan pelayanan penyembuhan Yesus (4:23-25; 9:35-38) membingkai dan menyatukan secara keseluruhan bagian narasi yang terdiri dari ajaran Yesus dalam Khotbah di Bukit (5 :1-7:29) dan mukjizatnya (8:1-9:34). Dalam beberapa kesempatan, Matius tampaknya ingin meningkatkan dampak sebuah narasi dengan “menggandakan” motif-motif penyusun tertentu. Misalnya, dalam narasi Markus, Yesus hanya menyembuhkan satu orang (Markus 10:46-52), sedangkan Matius dalam adaptasi cerita tersebut melaporkan bahwa Yesus menyembuhkan “dua orang buta” (20:29-34). Banyak pembaca yang menarik perhatian pada detail yang hampir lucu dari narasi Matius tentang masuknya Yesus pada Minggu Palma ke Yerusalem. Entah disusun sebagai penggenapan nubuatan Alkitab (21:5) atau sebagai “penggandaan” model Markus (Markus 11:7), jelas bahwa dalam Matius Yesus menunggangi dua binatang (21:6-7).
Akhir zaman dan penghakiman
Para teolog sering menggunakan kata “eskatologi” untuk merujuk pada kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi di masa depan sehubungan dengan kisah umat Tuhan yang sedang berlangsung dan sedang berkembang. Eskatologi “apokaliptik” cenderung melihat dunia secara radikal terbagi antara kebaikan dan kejahatan, dan keselamatan dalam konteks masuknya Tuhan secara dramatis dan tegas untuk menyelamatkan dan memulihkan nasib orang-orang benar. Entah karena peristiwa-peristiwa dunia atau karena situasi khusus yang ia alami, perhatian khusus Matius terhadap akhir zaman sepertinya berasal dari visi yang lebih “apokaliptik” dibandingkan dengan Injil Sinoptik lainnya. Matius melihat komunitasnya hidup di dunia yang terbagi menjadi wilayah milik Tuhan atau iblis (misalnya, 4:1-11). Dalam laporan pengajaran Yesus dalam perumpamaan di pasal 13, Matius menghilangkan perumpamaan Markus tentang benih yang tumbuh secara diam-diam (Markus 4:26-29). Ia mengganti perumpamaan tentang lalang yang tumbuh berdampingan dengan gandum, beserta penafsirannya (Matius 13:24-30, 36-43), yang secara eksplisit mengidentifikasi gandum dan lalang yang harus dibiarkan tumbuh bersama sampai “akhir zaman.” usia” (13:39), masing-masing, sebagai “anak-anak kerajaan” yang saleh dan sebagai “anak-anak si jahat.” Meskipun Matius dalam pasal 24 hanya mengambil alih sebagian besar pandangan Markus tentang kedatangan Anak Manusia (Markus 13), ia secara eksplisit menambahkan pertanyaan para murid mengenai “akhir zaman” (Matius 24:3) dan kemudian menambahkan tiga perumpamaan (pasal 25), yang semuanya membahas masalah penantian sebelum kedatangan Anak Manusia. Yang terakhir, dalam Amanat Agung-Nya yang unik, Yesus berjanji untuk menyertai komunitas murid-murid-Nya “sampai akhir zaman.”
Seperti yang ditunjukkan oleh pengerjaan ulang Matius atas Perumpamaan Kerajaan Yesus di pasal 13, pandangan Matius tentang akhir zaman dalam kaitannya dengan komunitas murid yang harus patuh dalam urusan pemuridan yang bertanggung jawab sambil menunggu kedatangan Anak Manusia adalah jelas. berkaitan dengan pemahamannya tentang kerajaan Allah. Sebagai contoh, dia telah menulis ulang perkataan Yesus tentang pemuridan dalam Markus 9:1. Sedangkan dalam Injil Markus Yesus berbicara tentang “orang-orang yang tidak akan merasakan kematian sampai mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan penuh kuasa,” komunitas Matius membayangkan dirinya menantikan Anak Manusia yang kerajaannya sedang dalam proses kedatangan.
Kerajaan surga
Pemahaman tentang “kerajaan surga” adalah inti cerita Matius (frasa ini muncul hampir 40 kali dalam Matius, termasuk lima kali sebagai “kerajaan Allah,” yang biasanya dihindari Matius; kata “kerajaan” tidak pernah muncul tanpa pengubahnya) . Dalam kaitannya dengan pengumuman tentang pemerintahan Allah yang menyeluruh yang kini dinyatakan dalam kedatangan Yesus sebagai Mesias, hal ini bahkan dapat dikatakan sebagai pesan utama Injil. Fokus ini sebagian besar tercapai berkat restrukturisasi kisah Markus yang dilakukan Matius. Yohanes Pembaptis datang berkhotbah, menyerukan pertobatan, karena “kerajaan surga sudah dekat” (3:2). Khotbah Yesus meniru seruan itu (4:17; 10:7; lihat juga 4:23; 9:35). Dalam Khotbah di Bukit, Yesus menafsirkan pemuridan dan berkat Allah dalam konteks pembicaraan kerajaan (5:3, 10, 19, 20). Dalam Doa Bapa Kami komunitas murid diajak berdoa bagi kerajaan (6:10). Berjuang demi kerajaan dan kebenaran adalah dua hal yang sama (6:33). Para murid pada gilirannya diutus dalam misi dengan pesan kerajaan yang sama (10:7). Dalam pasal perumpamaannya (pasal 13) Matius menawarkan gambaran khasnya tentang kerajaan, termasuk gambaran uniknya tentang harta karun yang tersembunyi di ladang dan mutiara yang berharga. Terakhir, Matius menambahkan sejumlah perumpamaan unik lainnya, serupa dalam penyajian gambaran sifat kerajaan, misalnya perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni (18:23-35), perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur (18:23-35). 20:1-16), atau perumpamaan tentang penantian sebelum akhir zaman di pasal 25. Isi utama kerajaan ini adalah kasih Allah yang murah hati dan setia yang terlihat dalam pengampunan dosa. Hal ini telah dinyatakan dalam pengumuman malaikat kepada Yusuf: namanya Yesus karena “dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (1:21). Hal ini diulangi dalam kata-kata Yesus kepada murid-murid-Nya pada Perjamuan Terakhir, ketika pengampunan ini diberikan kepada “banyak orang”, yaitu semua bangsa (26:26-28). Ketiga perumpamaan yang disebutkan di atas digabungkan menjadi ringkasan yang berguna mengenai gambaran kerajaan oleh Matius. Kerajaan terdiri dari komunitas pengikut yang patuh yang menunggu kembalinya tuan mereka, dan sementara itu terlibat dalam cinta kasih yang memaafkan atas nama sesama, karena itulah kehendak Bapa yang telah memilih untuk bermurah hati kepada mereka. semuanya sama, dan yang menghendaki agar tidak ada satupun dari anak-anak Tuhan yang terhilang. Namun mungkin ungkapan yang paling indah ada dalam ajakan Yesus, “Marilah kepadaku, kamu semua yang letih lesu dan memikul beban berat, dan Aku akan memberi ketentraman kepadamu” (11:28).
Hukum dan kebenaran
Meskipun kata “hukum” hanya muncul delapan kali dalam Injil Matius, jelas bahwa kepedulian terhadap “hukum” merupakan tema sentral dalam Injil, khususnya ketika hal tersebut dihubungkan dengan tema “kebenaran.” Faktanya, perhatian terhadap kesatuan inilah yang memberikan pencerahan yang bermanfaat mengenai komentar Yesus yang terkadang membingungkan mengenai kedudukan hukum. Pada awal Khotbah di Bukit Yesus mengumumkan bahwa Dia datang bukan untuk menghapuskan hukum dan kitab para nabi, tetapi untuk menggenapinya (5:17). Pernyataan tentang keabsahan hukum yang abadi ini segera ditafsirkan dengan seruan akan kebenaran yang melampaui tradisi yang diwakilkan oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi (5:20). Oleh karena itu, hal-hal tersebut tidak dapat dilihat hanya sekedar penegasan kembali hukum, seperti yang dijelaskan dalam rangkaian antitesis berikut ini (5:21-48). Kebenaran seperti itu sudah terlihat sekilas dalam kisah Yusuf, yang mengambil risiko tidak taat pada persyaratan tradisi (atau hukum) yang ketat demi menaati perintah dan tujuan keselamatan Allah (1:18-25). Hal ini akan terlihat kembali dalam penegasan Yesus bahwa Ia datang bukan untuk memanggil orang-orang benar melainkan orang-orang berdosa untuk bertobat, suatu pertobatan yang bagi Matius harus ditafsirkan secara unik dengan mengacu pada kemurahan dan kasih setia Allah (9:13). Yang terakhir, perhatian pada hukum Taurat adalah tentang Allah dan jalan kebenaran Allah: “Kamu harus “sempurna” (teleios; kata itu berarti mempunyai tujuan dan lengkap) “sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (5:48). Jika dalam Matius kita mendengar bahwa Allah telah menyerahkan seluruh otoritas kepada Anak (11:25-27; 28:18-20), maka mulai sekarang hukum dan kebenaran harus ditafsirkan dalam istilah Mesias yang telah bangkit. Ketika ditanya tentang hukum yang terutama dalam hukum Taurat, Yesus menjawab bahwa ada dua perintah, yaitu mengasihi Allah dengan seutuhnya dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (22:34-40). Tuntutan hukum berpusat pada kasih kepada Allah dan sesama, dan bagi Matius, ketaatan menjadi murid kerajaan yang menjadi tujuan panggilan Yesus hanyalah penggenapan “hukum” Allah sejak awal. Perhatian mereka pada “surat” hukum dan bukan pada semangat kasih dan belas kasihan yang teguh di pusat hukum itulah yang Yesus tegur dengan tegas dalam kesengsaraannya terhadap para pemimpin bangsa yang munafik (pasal 23).
Misi Melampaui Yudea
Panggilan untuk menjadi pemuridan dan misi pemuridan hadir dalam seluruh Injil Matius. Pada awal cerita Matius, misi tersebut tampaknya sengaja diarahkan ke luar bangsa Israel. Dalam kisah uniknya tentang kelahiran Yesus, orang-orang bijak “dari timur” menjadi orang pertama yang mendengar dan memuja raja yang baru lahir ini (2:1-12). Ketika keluarga tersebut kembali dari Mesir, sekali lagi melalui bimbingan ilahi dan sebagai penggenapan nubuatan, mereka tidak kembali ke Betlehem dan daerah sekitarnya yang kaya akan tradisi Yahudi, namun tinggal di Nazaret di Galilea (2:19-23). Ketika Yesus memulai pelayanannya, bahasa Matius yang akrab dengan kata “menarik diri” (4:12) menandai perpindahannya ke Galilea dan daerah Kapernaum sebagai suatu hal yang disengaja. Sekali lagi, jaminan alkitabiah menggarisbawahi lokasi pelayanannya sebagai “bangsa-bangsa” di Galilea dan “rakyat” yang menjadi sasarannya sebagai orang Galilea (4:15-17). Pada akhir dari dua bagian utama pengajaran dan pelayanan penyembuhan Yesus (5:1-9:34), Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya tentang banyaknya hasil panen yang ada di hadapan mereka dan memerintahkan mereka untuk berdoa bagi para pekerja yang melakukan panen (9:37 -38). Berikut ini adalah ceramah Yesus yang kedua mengenai misi kedua belas murid, yang diakhiri dengan perkataan yang mengaitkan pahala menjadi murid dengan kesetiaan dalam misi, memikul salib, dan menemukan nyawa dengan kehilangannya (10:1-42) . Namun, mengingat fokus sebelumnya pada misi di luar umat Israel, agak mengejutkan bahwa Yesus kini memerintahkan murid-muridnya untuk “tidak pergi ke mana pun di antara bangsa-bangsa…melainkan pergi ke domba-domba yang hilang dari umat Israel” (10:5-6). Pernyataan ini bukanlah sebuah kebetulan, hal ini ditegaskan dalam tambahan Matius atas pernyataan yang sama dalam pengerjaan ulang kisah wanita Kanaan (15:24). Namun pentingnya misi yang lebih luas bagi Matthew masih jelas. Bahwa semua bangsa adalah sasaran misi Yesus sang Mesias terlihat dalam gambaran misi murid yang tanpa pamrih memperhatikan kebutuhan sesamanya dalam perumpamaan kedatangan Anak Manusia (25:31-46). Yesus berjanji bahwa darah-Nya akan dicurahkan demi pengampunan semua orang (26:28). Terakhir, perutusan kepada segala bangsa dinyatakan secara eksplisit dalam Amanat Agung Yesus di akhir Injil (28:18-20).
Garis Besar Matius
Garis besar adalah cara untuk menarik perhatian pada struktur dan makna utama yang ditemukan pembaca dalam teks. Pembaca Matius yang berbeda-beda telah mengajukan sejumlah alternatif untuk menguraikan isi Matius. Salah satu sumber dan dampak dari tugas tersebut adalah dengan memperhatikan perubahan-perubahan yang dilakukan Matius terhadap modelnya, Markus. Misalnya, meskipun Matius mengambil alih tiga ramalan sengsara Markus yang terstruktur dengan cermat (Markus 8:31; 9:31; 10:33-34), ketiganya tidak lagi memiliki integrasi yang sama ke dalam struktur sastranya.
Banyak orang telah mencatat pentingnya lima khotbah Yesus dalam Matius (pasal 5-7; 10; 13; 18; 24-25). Pada tahun 1930, Benjamin Bacon mengusulkan garis besar berdasarkan pidato-pidato ini dan materi naratif terkait tematis yang menyertainya, dengan alasan bahwa pidato tersebut bermaksud menyajikan semacam analogi dengan “Lima Kitab Musa.” Yang kurang memuaskan dalam proposal ini adalah menjadikan narasi kelahiran dan gairah Matius menjadi “pembukaan” dan “epilog.” Jack Kingsbury pada tahun 1975 mengusulkan garis besar kristologis yang lebih sederhana yang berfokus pada rumusan berulang “sejak saat itu Yesus mulai…” (4:17; 16:21), membagi Matius menjadi tiga bagian: (1) presentasi tentang Yesus (1) :1-4:16); (2) pelayanan Yesus kepada Israel dan penolakan Israel terhadap Yesus (4:17-16:20); dan (3) perjalanan Yesus ke Yerusalem dan penderitaan, kematian, dan kebangkitannya (16:21-28:20).
Masing-masing garis besar mempunyai nilai dalam memfokuskan penekanan atau struktur tertentu, namun tampaknya tidak ada yang benar-benar memadai untuk mengatasi kompleksitas struktur dan teknik sastra Matius. Tentu saja, alur narasi – kelahiran Yesus, pelayanan di Galilea, pelayanan di Yudea dan Yerusalem, serta sengsara, kematian, dan kebangkitan-Nya – memberikan garis besar yang mendasar. Dalam garis besar itu Matius menggunakan berbagai perangkat sastra untuk menghasilkan efek retoris. Pembingkaian keseluruhan narasi dengan tema Imanuel, “Allah beserta kita” (1:23; 18:20), tentu penting baik secara struktural maupun tematis, begitu pula dengan pembingkaian ajaran Yesus (5:1-7: 29) dan mukjizat (8:1-9:34) dengan ringkasan paralel tentang pengajaran, khotbah, dan penyembuhannya (4:23; 9:35). Pengakuan Petrus (16:16) dan Amanat Agung (28:18-20) tentu saja merupakan episode penting dan klimaks dalam Injil. Kompleksitas ini diperparah dengan penggunaan pola-pola kiastis, penggandaan, pengulangan, dan lain-lain dalam Matius. Garis besar yang disarankan di sini berusaha untuk memperhatikan sejumlah ciri-ciri yang menarik ini, namun jelas bahwa seni sastra Matius begitu kompleks sehingga sulit untuk diusulkan. satu garis besar yang akan sepenuhnya memuaskan.
Perumpamaan Yesus
Tidak ada keraguan bahwa, bagi Matius, ajaran Yesus dalam perumpamaan adalah kunci utama untuk memahami pelayanan dan misi-Nya. Mereka fokus pada peran pentingnya sebagai guru, dan isinya terfokus pada topik sentral khotbah Yesus, pesan kerajaan Allah (4:17). Salah satu dari lima khotbah utama Yesus (13:1-53) dikhususkan untuk pengajaran Yesus dalam perumpamaan. Dalam kumpulan itu Matius dengan hati-hati mengadaptasi Markus untuk memberikan pengajaran Yesus visinya sendiri tentang kerajaan surga dan pemuridan. Konsisten dengan tema penghakiman di bagian lain Injil, ia menggantikan perumpamaan Markus tentang ketersembunyian dan kerahasiaan kerajaan dengan perumpamaan tentang lalang dan gandum serta penafsirannya, yang membayangkan kerajaan itu sebagai campuran anak-anak yang saleh dan jahat hingga akhir zaman. penilaian waktu. Ia lebih fokus pada keyakinan bahwa penggunaan perumpamaan oleh Yesus menggenapi kitab suci dalam membedakan mereka yang mendengar dan memahami dari mereka yang tidak mendengar dan merespons (13:10-15). Namun perubahan utamanya berkaitan dengan pemuridan dan sifat kerajaan. Bagaikan harta karun yang terpendam di ladang atau mutiara yang berharga, menemukan kerajaan adalah anugerah mengejutkan yang dimiliki Allah dan tidak dapat dikendalikan oleh para murid (13:34-35; 44-50). Memiliki telinga untuk mendengar dan mata untuk melihat berarti mengalami berkat Allah (13:16-17; lihat juga 5:1-12; 7:24-27). Di akhir khotbahnya, Matius menggarisbawahi pentingnya perumpamaan ini bagi pemuridan, dan meminta perhatian pada peranannya dalam memahami dan memuridkan kerajaan (13:51-53).
Selain wacana perumpamaan ini, Matius di tempat lain menambahkan sejumlah perumpamaan unik Yesus lainnya yang menggambarkan pemahaman khususnya tentang kerajaan. Perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni (18:23-35) menggarisbawahi panggilan masyarakat untuk menerapkan pengampunan Tuhan tanpa batas. Perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur, yang dibingkai dengan pepatah “yang awal dan yang akhir”, berfokus pada kuasa kemurahan dan kasih Allah yang mengubah dunia (19:30-20:16). Untuk komunitas yang menantikan kedatangan Anak Manusia, Matius menambahkan tiga perumpamaan yang menggambarkan pemuridan kerajaan yang bertanggung jawab dan taat – perumpamaan tentang sepuluh pengiring pengantin, perumpamaan tentang talenta, dan perumpamaan tentang penghakiman terakhir (25 :1-46).
Keselamatan dalam Matius
Meskipun gelar “Juruselamat” tidak disebutkan sama sekali dalam Injil Matius, salah satu peran sentral Mesias dalam Injil Matius adalah sebagai penyelamat. Malaikat mengumumkan kepada Yusuf bahwa nama anak itu adalah Yesus “sebab Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka,” dengan demikian secara eksplisit menggambarkan peran penyelamatan Yesus dan memfokuskan dampak karya penyelamatan-Nya dalam pengampunan dosa (1:21). Sejalan dengan pemahaman ini, para murid sebagai wakil pengikut Yesus, yang dilanda badai di laut, dua kali menyapa Yesus dengan bahasa iman yang sesuai: “Tuhan, selamatkan kami” (8:25; 14:30). Kisah kesembuhan orang lumpuh (9:2-8) atau kesembuhan perempuan yang menderita pendarahan (9:20-22) merupakan kisah yang khas karena secara eksplisit menghubungkan kesembuhan Yesus dengan tema keselamatan dan pengampunan dosa. : “Imanmu telah menyelamatkanmu” (Bahasa Yunani 9:22). Janji bagi para murid yang setia bertahan sampai akhir adalah bahwa mereka “akan diselamatkan” (10:22; 24:13). Ironisnya, peran Yesus sebagai penyelamat menjadi olok-olok sekaligus pengakuan di kayu salib: “Dia menyelamatkan orang lain; dia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri” (27:42).
Matius memusatkan pemahaman yang jelas tentang peran Yesus sebagai penyelamat dalam perspektif yang lebih luas tentang keseluruhan pekerjaan keselamatan Allah. Meskipun Matius memahami bahwa Allah sedang melakukan sesuatu yang baru dalam kelahiran Mesias, kelahiran tersebut juga meneguhkan janji akan kehadiran Allah yang berkelanjutan (“Allah menyertai kita,” 1:23). Janji ini dihubungkan melalui silsilah awal dengan kisah umat Allah mulai dari Abraham sampai Daud dan melalui pembuangan dan kepulangan (1:1-17). Di akhir Injil, komunitas Matius menerima janji Tuhan yang bangkit akan kehadiran tetap yang sama hingga akhir zaman. Keselamatan bagi Matius merupakan kisah yang sedang berlangsung. Keselamatan mempunyai “sejarah” dalam peristiwa-peristiwa tertentu yang terjadi pada umat Allah. Komunitas Matius telah menjadi bagian dari kisah itu, yang kini berpusat pada kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus sang Mesias.
Khotbah di Bukit
Tidak ada keraguan bahwa Khotbah di Bukit memainkan peranan penting dalam pemahaman Matius tentang kabar baik tentang Yesus. Ini adalah khotbah pertama dari lima khotbah utama Yesus dalam Injil Matius, yang digabungkan untuk merangkum visi khas Matius tentang pengajaran Yesus dan respons pemuridan. Matius dengan jelas telah mengadaptasi garis besar Markus untuk memberikan peran Yesus sebagai guru yang menonjol dan menjadikan Khotbah di Bukit sebagai ilustrasi mendasar dari ajaran tersebut. Referensi sebelumnya mengenai Yusuf sebagai orang benar (1:19) dan perkataan Yesus tentang baptisannya sebagai penggenapan seluruh kebenaran (3:15) telah mengantisipasi tema sentral Khotbah tentang kebenaran kerajaan (5:6, 10, 17-20; 6: 33). Dalam perhatian awalnya pada “berkat” Allah (5:1-12) dan seruan penutupnya untuk menjadi “pendengar” dan “pelaku” (7:24-27), tema-tema ini menjadi agenda bagi seluruh isi Injil. , tema-tema yang akhirnya dikumpulkan dalam Amanat Agung dengan tugasnya kepada komunitas murid untuk mengajarkan firman Tuhan kepada semua bangsa (28:18-20).
Banyak yang telah ditulis tentang pemahaman yang tepat dan penggunaan Khotbah di Bukit, sebagian besar berpusat pada pernyataan kunci Yesus tentang kegenapan hukum Taurat dan seruan untuk kebenaran yang melebihi kebenaran para ahli Taurat dan orang Farisi (5:17 , 20). Serangkaian antitesis Yesus menekan tuntutan etika hukum dan tradisi secara ekstrem, dan berpuncak pada ringkasan komentar mengenai perlunya kesempurnaan (5:21-47, 48). Dalam konteks ini seruan Khotbah untuk mencari Kerajaan Allah dan kebenaran Allah (6:33) mungkin tampak sulit untuk diselaraskan dengan gambaran kerajaan yang disajikan dalam perumpamaan tentang harta karun (13:44), yaitu perumpamaan para pekerja di ladang. kebun anggur (20:1-16), atau undangan Yesus kepada semua orang yang memikul beban untuk “datang…dan beristirahat” (11:28-30). Beberapa orang melihat Khotbah tersebut menyajikan tuntutan-tuntutan mustahil yang diperhitungkan untuk mendorong para pendengarnya bertobat. Yang lain melihatnya sebagai etika sementara yang hanya berlaku bagi mereka yang menantikan kepenuhan kerajaan di akhir zaman atau hanya berlaku untuk kelompok murid elit khusus. Yang lain lagi melihat perintah-perintahnya sebagai bagian dari visi kemungkinan-kemungkinan baru kerajaan yang diresmikan dalam pelayanan dan misi Yesus sang Mesias. Mungkin yang terbaik adalah menghubungkannya dengan keseluruhan gambaran Matius tentang kebenaran, yang secara pasti tercermin dalam dua ekspresi perintah utama untuk mengasihi Allah dan sesama (22:37-39), dan diilustrasikan oleh kebenaran pemuridan yang merupakan sebuah tanda misteri kerajaan. Dalam misteri itu para murid diberkati untuk memahami apa artinya Allah menghendaki belas kasihan dan bukan pengorbanan (9:12-13; 12:7) dan bahwa dalam kemurahan hati Allah, yang pertama akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang pertama (19:30 ; 20:16).
Sumber Matius
Persoalan sumber Matius berkaitan dengan pertimbangan hubungan Injil Sinoptik: Matius, Markus, dan Lukas. Sejak awal abad ke-2, umat Kristiani mempunyai beberapa kesamaan, berdasarkan kesamaan alur cerita dan isi ketiganya, dan juga sering mencatat perbedaan mereka dari Injil Yohanes dalam kedua hal tersebut. Tradisi lama, yang dirangkum oleh St. Agustinus pada awal abad kelima, berasumsi bahwa urutan kanonik Matius sebagai yang pertama memang merupakan urutan kronologisnya. Seiring dengan meluasnya penggunaan Khotbah di Bukit, Doa Bapa Kami, dan konten lainnya dalam ibadah dan kesalehan Kristen, hal ini mungkin berkontribusi terhadap popularitas Injil di dalam gereja.
Karena berbagai alasan, pandangan tradisional ini mulai ditentang pada abad ke-19. Meskipun perdebatan terus berlanjut, hipotesis yang berlaku dalam ilmu biblikal modern adalah bahwa Markuslah, bukan Matius, yang pertama kali ditulis dan baik Matius maupun Lukas menggunakan Markus bersama dengan kumpulan perkataan Yesus sebagai sumber utama mereka. Asumsi umum yang ada adalah bahwa sumber perkataan tersebut adalah sebuah dokumen tertulis, yang kini telah hilang, dan oleh para ahli diberi nama hipotetis “Q” (dari kata Jerman Quelle yang berarti “sumber”).
Menurut apa yang disebut teori “dua sumber”, Matius menggunakan dua sumber utama dalam karyanya, menggabungkan hampir seluruh Markus dan Q. Namun, perbandingan yang dekat menunjukkan bahwa Matius tidak hanya menyalin begitu saja, namun mengolah kembali sumber-sumber tersebut sehingga menghasilkan sumber-sumber yang sama. cap perspektif sastra dan teologisnya sendiri. Selain itu Matius telah menggunakan banyak bahan yang khusus untuk Injilnya, baik yang berasal dari sumber lain atau dari komposisi editorialnya sendiri, yang biasanya diberi istilah “M” (untuk Matius). Materi-materi ini mencakup hal-hal seperti narasi kelahiran (bab 1-2), antitesis dari Khotbah di Bukit (5:21-43), perumpamaan tentang lalang, harta karun, mutiara dan jaring (bab 13 ), perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni dan pekerja di kebun anggur (18:23-35; 20:1-16), perumpamaan tentang penghakiman terakhir (25:31-46), dan Amanat Agung (28:16 -20).
Penggunaan kitab suci
Matius menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap kelanjutan kisah janji-janji Allah kepada umat Israel. Janji-janji tersebut merupakan bagian dari kitab suci, dan Matius banyak menggunakan kitab suci tersebut untuk membangun dan membentuk kisahnya tentang Yesus sang Mesias. Lebih dari 60 kali penggunaan tersebut secara eksplisit merujuk pada kutipan langsung dari sumber alkitabiah. Sering kali kata ini bersifat tidak langsung ketika mengacu pada peristiwa-peristiwa, misalnya dalam silsilah (1:2-17) atau pengujian Yesus di padang gurun (4:1-11), atau dalam penggunaan motif Perjanjian Lama, misalnya Yesus. sebagai pemberi hukum di gunung (5:1-2), domba dan gembala (9:36), atau kebun anggur Tuhan (20:1-16; 21:33-44). Kesan yang luar biasa adalah sejauh mana Kitab Suci Yahudi telah membentuk pemahaman Matius tentang kisah Yesus dan maknanya.
Salah satu cara khas yang menunjukkan perspektif Matius adalah dengan lazimnya rumusan “penggenapan” dalam narasi Injilnya (1:22; 2:15, 17, 23; 4:14; 8:17; 12:17; 13:35, 21:4; 26:54, 56; Pengumuman kelahiran Yesus dan penamaannya sebagai Imanuel ditetapkan sebagai “penggenapan” tujuan Allah dan rancangan keselamatan berdasarkan janji kitab suci. Dari lima kutipan eksplisit kitab suci dalam narasi kelahiran, empat di antaranya menggunakan “rumus pemenuhan” yang sama untuk mengawali teks. Tema penggenapan yang dirumuskan ini meluas ke seluruh Injil, sehingga timbul kesan bahwa Matius menganggap keseluruhan kisah Yesus dari awal hingga akhir dibentuk dan dibimbing oleh tangan Allah melalui janji kitab suci. Kadang-kadang kekhawatiran untuk menyesuaikan peristiwa-peristiwa dengan nubuatan justru menimbulkan hal-hal yang lucu, seperti ketika Yesus memasuki Yerusalem dengan dua ekor binatang, sebagai penggenapan nubuatan Zakharia (21:1-7). Kadang-kadang nubuatan tampaknya bergantung pada peristiwa (2:5-6) atau bahkan hanya karangan (2:23). Yang jelas dalam penggunaan kitab suci oleh Matius dan dalam kutipan penggenapannya adalah bahwa Matius ingin memandang realitas Yesus secara keseluruhan sebagai penggenapan rencana dan janji-janji Allah sebagaimana diungkapkan dalam kitab suci Israel.
Matius, Paulus, dan Taurat
Jika, seperti dikemukakan para ahli, Matius menggunakan Markus sebagai sumber Injilnya, maka timbul pertanyaan: Mengapa Matius merasa perlu menulis Injil yang lain? Berbeda dengan Lukas (Lukas 1:1-4), Matius tidak mengungkapkan alasannya menulis. Pertama, dapat dikatakan bahwa Matius memiliki akses terhadap tradisi-tradisi tentang Yesus yang ia rasa perlu untuk dibagikan. Ini termasuk bagian-bagian terkenal seperti Doa Bapa Kami dan Khotbah di Bukit, serta banyak perumpamaan unik Matius. Selain penambahan materi yang sederhana, penekanan pada Injil Matius membantu memberikan petunjuk mengenai alasan penulisannya. Dalam banyak kasus, penekanan Matius ini nampaknya ada untuk menanggapi khotbah rasul Paulus.
Paulus dan Matius bergumul dengan banyak tema yang sama, namun ada satu tema yang menonjol: hubungan orang non-Yahudi dengan Taurat Yahudi. Di sepanjang surat-suratnya, terutama dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus meminggirkan klaim-klaim hukum mengenai orang-orang non-Yahudi. Ia menyatakan bahwa Abraham beriman tanpa hukum (Galatia 3:17) dan bahwa hukum ditetapkan oleh malaikat melalui perantara (Galatia 3:19). Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus menyatakan bahwa Yesus datang sebagai telos hukum, yang dapat diartikan bahwa Yesus adalah akhir dari hukum (Roma 10:4). Sebaliknya, di sepanjang Injilnya, Matius menekankan pentingnya Taurat bagi para pengikut Yesus. Hal ini paling jelas terlihat dalam Matius 5:17, di mana ia menyatakan bahwa Yesus datang untuk menggenapi hukum, bukan menghapuskannya. Perbedaan pendirian yang diambil oleh kedua penulis ini menggambarkan cara para pengikut Yesus mula-mula bergumul dengan hubungan mereka dengan akar Yahudi mereka dan dengan praktik keagamaan Yahudi seperti pemeliharaan Taurat.
Matius dan Petrus
Seperti yang dijelaskan dalam penuturan otobiografi Paulus, dia dan Petrus tidak selalu saling berhadapan (Galatia 2:11-3:14). Injil Markus mengangkat sikap skeptis Paulus terhadap Petrus dan para murid. Dalam contoh lain dari hubungan Matius yang agak bermusuhan dengan Paulus, Matius berupaya untuk merehabilitasi Petrus sebagai pilar gereja Kristen. Ia melakukannya dengan melunakkan banyak kritik yang ditujukan Yesus kepada para murid, dan dengan menggambarkan para murid lebih memahami ajaran Yesus daripada Markus. Selain itu, Matius menempatkan Petrus pada posisi terkemuka sebagai landasan komunitas yang berpusat di sekitar Yesus (Matius 16:18). Tindakan rehabilitasi terakhir terjadi pada saat kebangkitan. Markus menyoroti Petrus dalam kubur yang kosong, mengingatkan para pembacanya bahwa Petrus menyangkal Yesus dan bahwa ia tidak percaya bahwa Yesus akan bangkit kembali (Markus 16:7). Sebaliknya Matius menempatkan pesan kepada para murid dengan cara yang lebih ramah. Yesus menyebut mereka “saudara-saudaranya” dan kalimat “Sudah kubilang” yang disampaikan oleh para malaikat tidak ada (Matius 28:10).
TEMA TEOLOGIS DALAM INJIL MATIUS
Malaikat
Seorang malaikat menampakkan diri kepada Yusuf dalam mimpi untuk memerintahkan dia mengambil Maria sebagai istrinya dan memberi nama anak yang dijanjikan itu Yesus, penyelamat dan Imanuel. Empat kali dalam kisah kelahiran Matius (1:20, 24; 2:13, 19) malaikat merupakan agen kehadiran dan petunjuk Allah, dan mereka muncul dalam peran tersebut sebanyak 20 kali pada poin-poin penting dalam narasi Matius. Mereka hadir bersama Anak Manusia pada kedatangan kerajaan dan akhir zaman (24:31, 36; 25:31) dan merupakan agen pemberitaan kebangkitan (28:2, 5).
Otoritas
Pada akhir pengajaran Yesus dalam Khotbah di Bukit, orang banyak tercengang karena ia mengajar dengan “otoritas” yang demikian. Di sepanjang Injil Matius, Yesus adalah seorang guru dan Dia mengajar dengan otoritas. Otoritas itu juga mencakup penyembuhannya (9:6, 8). Dalam khotbahnya ia menyatakan bahwa “segala sesuatu telah diserahkan” kepadanya oleh Bapa (11:27). Dan dalam Amanat Agung-Nya, yang mengakhiri Injil, Yesus, Mesias yang bangkit, mengklaim “semua otoritas” dan dengan otoritas tersebut menugaskan murid-murid-Nya untuk membaptis dan mengajar semua bangsa dalam nama-Nya dan dengan janji kehadiran-Nya yang kekal (28:18-20 ).
Baptisan
Dalam Injil Matius, baptisan merupakan hal yang penting karena kaitannya dengan tema utama kebenaran. Matius menghilangkan kaitan tematis baptisan dengan kematian Yesus, yang merupakan motif utama dalam Injil Markus (bandingkan Markus 10:38-39 dengan Matius 20:22-23). Kaitannya dengan kebenaran dan pertobatan ditegakkan dalam khotbah Yohanes Pembaptis (3:6, 11). Hal ini terlihat jelas pada baptisan Yesus ketika, hanya dalam Matius, Yesus mengatasi keengganan Yohanes, dengan menyatakan bahwa ia harus dibaptis “untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah” (3:15). Jika, bagi Matius, kebenaran adalah gambaran kunci dari murid-murid kerajaan (5:20; 6:33), maka penting bahwa pada akhir Injil kata-kata terakhir Yesus kepada murid-muridnya adalah pergi dan “membaptis” atas namanya.
Menghasilkan buah
Dalam narasi Matius, salah satu adaptasi utama dari narasi Markus tentang Yohanes Pembaptis adalah seruan Yohanes agar para pendengarnya “menghasilkan buah” yang layak untuk bertobat. Menghasilkan buah adalah tanda utama pertobatan yang layak bagi kerajaan. Gambaran tentang pohon yang baik yang menghasilkan buah yang baik merupakan gambaran kunci dalam Khotbah di Bukit: “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (7:16-20). Maka tidak mengejutkan bila tambahan penting dalam Matius terhadap perumpamaan penggarap yang jahat dalam versi Markus (Markus 12:1-12; Matius 21:33-46) adalah Yesus secara eksplisit mengaitkan pemuridan dalam kerajaan dengan menghasilkan buah: “ Kerajaan Allah itu akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu kaum yang menghasilkan buah kerajaan itu” (21:43).
Anugerah
Sifat tak terduga dari siapa yang diberkati oleh Tuhan adalah tanda kunci dari pernyataan Matius. Pengulangannya sebagai tanda kunci umat Allah dalam “Sabda Bahagia” yang mengawali Khotbah di Bukit (5:1-12) mungkin merupakan salah satu tema Injil Matius yang paling dikenal. Bagi Matius, berkat adalah penanda kunci dari janji-janji Allah, dan Matius secara unik menegaskan berkat itu pada poin-poin penting dalam narasinya. Berkat bagi mereka yang menanggapi dengan iman berbeda dengan mereka yang tersinggung dengan khotbah Yesus (11:6; 13:16). Berkat Allah menyebabkan pengakuan Petrus yang klimaks dan penting bahwa Yesus adalah “Mesias, Anak Allah yang hidup” (16:16).
Penciptaan (Kejadian)
Meski sering disamarkan dalam terjemahan dengan kata “silsilah”, judul Injil Matius sebenarnya menggambarkannya sebagai “kitab” (biblos) tentang “kejadian” Yesus sang Mesias. Tidak hanya sekali tetapi dua kali dalam narasi kelahirannya yang unik (pasal 1 dan 2) Matius membuat hubungan tematik yang eksplisit dengan kitab pembuka Kitab Suci dan kisah penciptaan Allah. Matius mengawali Injilnya dengan narasi khas yang mana kelahiran Yesus sang Mesias dipandang sebagai aktivitas kreatif baru Allah, sebuah perspektif yang kemudian membentuk pendengaran narasi selanjutnya.
Mimpi
Ibarat malaikat, mimpi dalam Matius dipandang transparan terhadap kehadiran dan tuntunan Tuhan dalam kisah Yesus. Lima kali dalam narasi kelahiran Matius (1:20; 2:12, 13, 19, 22) respon ketaatan terhadap tuntunan Tuhan dalam mimpi menunjukkan pelestarian tindakan keselamatan Tuhan dalam respon Yusuf dan orang-orang majus. Ironisnya, dalam satu-satunya contoh mimpi yang disebutkan, peringatan istri Pilatus tentang tidak bersalahnya orang benar ini (27:17) tidak mampu menggagalkan tujuan Tuhan dalam sengsara dan kematian Yesus sang Mesias.
Keyakinan
Iman, bersama dengan kebenaran, adalah tanda kunci dari pemuridan dalam kerajaan. Dalam 17:20 Yesus mengkritik “sedikit iman” para murid dan berjanji bahwa jika mereka memiliki iman bahkan sekecil biji sesawi “tidak ada yang mustahil” bagi mereka. Dua kali, dalam cerita-cerita yang melambangkan komunitas murid-murid-Nya, badai yang reda (8:23-27) dan perjalanan Petrus di atas air (14:22-33), Matius memodifikasi cerita-cerita tersebut agar secara eksplisit berfokus pada persoalan iman. Dalam kedua contoh tersebut dan di tempat lain secara unik dia berbicara bukan tentang kurangnya iman para murid, namun tentang “kurangnya iman” mereka (6:30; 8:26; 14:31; 16:8; 17:20). Dalam kisah tentang iman perempuan Kanaan, Matius telah sepenuhnya mengolah kembali kisah tersebut untuk fokus pada iman perempuan itu, berbeda dengan iman para murid. Hanya di sini – faktanya, hanya di sini di seluruh Perjanjian Baru – Yesus menyatakan tentang “iman yang besar” dari orang asing ini sehingga putrinya segera disembuhkan (15:28).
Pertama dan terakhir
“Banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” Matius telah mengambil alih tema ini, yang dinyatakan secara beragam dalam naskah asli Markus (9:35; 10:31) dan menekankannya dengan menjadikannya lebih formal sebagai sebuah doublet (sesuatu yang terjadi dua kali) (19:30; 20:16). Hal ini kemudian difokuskan secara lebih menonjol sebagai kunci menuju kemurahan hati kebenaran Allah dalam kerajaan dengan menggunakannya untuk membingkai perumpamaan unik tentang para pekerja di kebun anggur. Dalam perumpamaan ini pekerja “terakhir” dibayar “pertama” dan “sama” dengan mereka yang bekerja sepanjang hari (20:1-16).
Pengampunan
Bagi Matius, pengampunan adalah tanda kunci dari komunitas baru murid-murid Yesus yang dicontoh dan disahkan melalui kematian Yesus sang Mesias. Hanya dalam Matius, Yesus berjanji pada perjamuan terakhirnya bersama murid-muridnya bahwa darahnya dicurahkan bagi semua orang “untuk pengampunan dosa” (26:28). Memahami bahwa Allah menginginkan “belas kasihan, bukan pengorbanan” (9:13; 12:7) adalah kunci misi keselamatan Allah dalam pelayanan Yesus. Hal ini dapat dilihat dalam ajarannya tentang doa dalam Khotbah di Bukit, ketika Yesus memerintahkan murid-muridnya untuk berdoa dan memberi contoh pengampunan (6:12). Pengampunan mendefinisikan komunitas baru murid-murid Yesus. Ketika Petrus membuat pengakuannya yang berani, janji akan kuasa mengampuni itulah yang menandai berkat Allah (16:19). Khotbah utama Yesus yang keempat dalam Injil (18:1-35) difokuskan pada disiplin pengampunan. Untuk menggarisbawahi pernyataan Yesus tentang penerapan pengampunan yang tidak terbatas (18:22) Matius menambahkan perumpamaan uniknya tentang hamba yang tidak mau mengampuni dengan seruannya untuk menerapkan kasih yang mengampuni yang meniru kasih majikan (18:23-35).
“Tuhan menyertai kita” (Imanuel)
Janji akan kehadiran Allah yang kekal bersama umat Allah membingkai keseluruhan Injil dan dalam banyak hal merupakan pesan utama Injil. Janji malaikat pada saat kelahiran Yesus adalah bahwa di dalam Yesus, Mesias dan Juruselamat, Allah adalah Imanuel, sebuah janji yang dengan hati-hati ditekankan oleh penulis dengan menegaskannya sebagai penggenapan kitab suci dan dengan menerjemahkannya bagi para pendengar Injil ( 1:23). Di bagian akhir Injil, Yesus mengklaim semua otoritas, dan mengutus murid-murid-Nya dalam misi dengan janji bahwa Dia akan “bersama mereka” sampai akhir zaman (28:18-20). Kehadiran Yesus terlihat dalam seruan-Nya kepada mereka yang lelah untuk datang kepada-Nya dan mencari istirahat (11:28-30). Dalam pembahasannya mengenai kisah-kisah menenangkan badai dan berjalannya Yesus di atas air (8:23-27; 14:22-33) kita melihat semacam perumpamaan komunitas murid dengan janji akan kehadiran Yesus yang menyelamatkan. bahkan di tengah badai kehidupan.
Keputusan
Dalam kata-kata terakhir ajaran Yesus dalam Matius, perumpamaan tentang penghakiman (25:31-46), Anak Manusia duduk di takhta-Nya menghakimi bangsa-bangsa berdasarkan perbuatan belas kasihan mereka. Tema penghakiman dan pahala pemuridan sehubungan dengan panggilan kerajaan untuk menghasilkan buah yang layak bagi pertobatan merupakan tema yang diulangi dalam Matius. Hal ini terdapat dalam khotbah Yohanes (3:7-12); hal ini diulangi dalam Khotbah Yesus di Bukit (7:15-19); dan hal ini diulang berkali-kali dalam ajaran Yesus (misalnya, 10:15; 11:24; 13:30, 39-43). Dengan gambaran seperti itu Matius berulang kali menyerukan komunitasnya untuk melakukan ketaatan yang bertanggung jawab sembari menantikan kembalinya Anak Manusia.
Belas kasihan
Penggunaan tema belas kasihan oleh Matius merupakan hal yang unik dalam Injil Sinoptik. Ketika atas panggilan Matius sang pemungut cukai, Yesus dikritik karena makan bersama para pemungut pajak dan orang-orang berdosa, ia menjawab dengan sebuah komentar yang dilihat oleh masing-masing Injil sebagai lambang pelayanan Yesus kepada mereka yang terhilang: “Orang-orang yang sehat tidak punya apa-apa.” membutuhkan tabib, tetapi mereka yang sakit….Aku datang bukan untuk memanggil orang-orang benar, melainkan orang-orang berdosa” (9:12-13). Hanya Matius yang menyisipkan komentar lebih lanjut tentang Yesus, yang tampaknya didasarkan pada nabi Hosea (6:6): “Pergilah dan pelajarilah apa maksudnya, 'Aku menginginkan belas kasihan, bukan pengorbanan.'” Perkataan yang sama diulangi lagi sebagai tanggapan terhadap mereka yang mengkritik tindakan belas kasihan Yesus (12:7). Kedua hal tersebut menggambarkan pemahaman Matius mengenai pelayanan dan misi Yesus sebagai hal yang konsisten dengan kasih dan kemurahan Allah yang teguh yang dinyatakan dalam tradisi kitab suci.
Mesias
Judul Injil Matius mengidentifikasi Yesus sebagai Mesias (Christos), sebuah gelar yang dimaksudkan untuk menghubungkan dia dengan harapan yang terkait dengan leluhurnya, Raja Daud. Lima kali gelar tersebut diulangi dalam narasi kelahiran Matius (1:1, 16, 17, 18; 2:4) dan dengan demikian tetap menjadi gelar utama Yesus sepanjang pelayanannya di Galilea. Hal ini terjadi selanjutnya ketika, setelah narasi pengajaran dan pelayanan penyembuhan Yesus, Yohanes Pembaptis mempunyai pertanyaan tentang apakah Yesus sebenarnya adalah Mesias yang diharapkan (11:2). Tanggapan Yesus menghubungkan peran Mesias dengan apa yang Yohanes “dengar” dan “lihat” dalam pelayanan Yesus. Petrus, sebagai wakil para murid, menjadikan pengakuan utama Injil dalam pernyataannya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (16:16). Yesus menerima pengakuan itu sebagai tanda wahyu Tuhan, dan sejak saat itu dalam cerita, peran Yesus sebagai Mesias diarahkan pada penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Yang terakhir, dalam referensi terakhir mengenai Yesus, Yesus sang Mesias dinyatakan layak mati dan menggenapi takdir raja baru Allah (26:63, 68).
Misi
Panggilan untuk menjadi pemuridan dan misi pemuridan hadir dalam seluruh Injil Matius. Pada akhir dari dua bagian utama pengajaran dan pelayanan penyembuhan Yesus (5:1-9:34), Yesus menyatakan tentang berlimpahnya tuaian yang ada di hadapan mereka, dan memerintahkan para murid untuk berdoa bagi para pekerja yang akan menuai (9:37- 38). Berikutnya adalah ceramah Yesus yang kedua dalam Matius mengenai misi kedua belas murid, yang diakhiri dengan perkataan yang mengaitkan pahala pemuridan dengan kesetiaan dalam misi, memikul salib, dan menemukan nyawa dengan kehilangannya (10:1- 42). Misi tersebut dinyatakan secara eksplisit dalam Amanat Agung Yesus di akhir Injil (28:18-20). Hal ini juga terlihat dalam gambaran misi murid yang tidak mementingkan diri sendiri terhadap kebutuhan sesama dalam perumpamaan kedatangan Anak Manusia (25:31-46).
Ketaatan
Kebenaran dan ketaatan merupakan satu kesatuan dalam gambaran Matius tentang pemuridan yang setia dalam kerajaan. Dalam cerita pembukaan Injil Matius, kita melihat Yusuf yang “benar” (1:19) yang tanpa diragukan lagi dengan patuh mengikuti instruksi Tuhan melalui malaikat dan dengan demikian menjadi ayah Mesias, Anak Daud, yang disyaratkan dalam silsilah. Yesus taat pada saat pembaptisannya sehingga menggenapi seluruh kebenaran (3:15). Bagi Matius, pemuridan yang taat mempersiapkan jalan keselamatan – sebuah tema yang diulang berkali-kali dalam Injil. Hal ini terlihat dalam misi ketaatan para murid (pasal 10). Hal ini diasumsikan dalam perintah terbuka Yesus yang mengakhiri Injil (28:18-20).
Pelanggaran
“Pelanggaran” bagi Matius adalah sisi lain dari iman. Ini adalah isu kunci dalam pemuridan yang pada gilirannya menjadi tanda anugerah berkat Tuhan. Kata Yunaninya adalah skandalon (sayangnya sering disamarkan dalam terjemahan sebagai “batu sandungan” atau “godaan untuk berbuat dosa”). Ketika Yohanes bertanya kepada Yesus apakah dialah yang akan datang atau apakah dia masih harus menunggu kedatangan yang lain, Yesus mengajak Yohanes untuk merenungkan apa yang telah dia dengar dan lihat, dan kemudian menyimpulkan dengan komentar yang jitu: “Berbahagialah orang yang tidak tersinggung kepadaku. ” (11:6). Beberapa orang yang mendengar perumpamaan Yesus tentang pengajaran kerajaan merasa “tersinggung” dan menolak Dia (13:41, 57). Enam kali dalam pasal 18, “pelanggaran” adalah kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang mengakibatkan hilangnya “anak-anak kecil” dari kerajaan Allah (18:6, 7, 8, 9). Bahkan Petrus pun berisiko dianggap sebagai “pelanggaran” terhadap misi penderitaan dan kematian Yesus (16:23). Pada akhirnya semua murid “tersinggung” dan meninggalkan Yesus (26:31, 33).
Petrus
Kisah penolakan Petrus terhadap Yesus pada masa sengsaranya tertanam dalam tradisi Injil (Matius 26:69-75; Markus 14:66-72; Lukas 22:54-62; Yohanes 18:15-27). Dalam sejumlah cerita dan motif yang unik dalam Injil Matius, Petrus mempunyai tempat khusus, mungkin sebagai teladan pemuridan. Yesus menanggapi pengakuan Petrus tentang dirinya sebagai Mesias dengan menandainya sebagai tanda berkat dan wahyu khusus dari Allah dan sebagai batu karang yang di atasnya gereja akan didirikan (16:17-20). Dalam ceramah Yesus mengenai komunitas baru gereja, Petrus perlu diajari tentang kemurahan Tuhan yang tak terbatas dalam hal pengampunan (18:21-22). Dalam kisah Yesus berjalan di atas air, Matius menambahkan bahwa Petrus, ketika diundang sebagai murid untuk datang kepada Yesus, mula-mula berjalan di atas air. Ketika ia mulai tenggelam, ia berseru kepada Tuhan dan Juruselamatnya, namun ia didera karena “imannya yang kecil” (14:28-31).
Tobat
Pertobatan adalah tanda persiapan sejati bagi kerajaan Allah. Ini adalah gambaran ringkasan khotbah Yohanes Pembaptis (3:2). Hal ini diulangi dalam khotbah pengukuhan Yesus (4:17). Sebagai tanda kerajaan, hal ini dikaitkan dengan menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan tersebut; karena pertobatan, seperti yang biasa terjadi dalam Perjanjian Baru, bukanlah soal kesedihan atas dosa, melainkan sebuah tanda dari respons iman dan ketaatan yang baru diberdayakan terhadap panggilan kerajaan. Bagi Matius, tanggapan seperti itu merupakan tanda berkat Tuhan bagi para murid yang telah diberi mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar (13:16-17), anugerah yang tetap tersembunyi bagi mereka yang tidak menanggapinya dengan pertobatan (11:20 -21; 12:41).
Garam dan cahaya
Terang (dan garam) adalah metafora kunci keselamatan dan kerajaan bagi Matius. Penjelasannya tentang awal pelayanan Yesus unik karena menggunakan gambaran terang yang terbit di kegelapan, yang diambil dari nubuatan Alkitab (4:13-16). Ada hubungan literal dalam motif ini dengan cahaya bintang yang “pada saat terbitnya” (2:2) memanggil dan membimbing orang-orang majus untuk menyembah bayi Yesus. Memiliki terang dalam diri seseorang berarti membuka seluruh hidupnya terhadap pimpinan Allah (6:22-23). Menjadi garam dan terang adalah bagian dari janji dan berkat yang dimiliki umat Tuhan dan juga bagian dari respon ketaatan yang perbuatannya memuliakan dan memuji Tuhan (5:13-16).
Bintang
Dalam narasi kelahiran Matius, orang-orang majus dipanggil dan dibimbing oleh sebuah bintang untuk menyembah bayi Yesus di Betlehem (2:1-12). Ibarat mimpi, motif bintang beruas empat merupakan tanda kehadiran dan kesengajaan tangan Tuhan dalam kisah Yesus. Dengan keyakinan bahwa bahkan bintang-bintang di langit pun merupakan tanda-tanda karya keselamatan Allah, kisah Yesus dikaitkan dengan tema penciptaan yang terdapat dalam kisah Matius. Referensi pada “terbitnya bintang” secara harafiah berhubungan dengan “fajarnya terang” pada mereka yang berada dalam kegelapan yang menggambarkan awal pelayanan Yesus. Jadi Matius menghubungkan kisah kelahiran Yesus dengan pelayanannya dalam mengajar, berkhotbah, dan menyembuhkan.
Pengajaran
Yesus pertama-tama dan terutama adalah seorang “guru” dalam Injil Matius dan mereka yang “mengikuti” dia disebut “siswa” (“murid”). Matius dengan hati-hati mengadaptasi dan menata ulang Markus dan materinya untuk memenuhi tema tersebut. Dalam rangkuman pertama pelayanan-Nya, suatu rangkuman yang secara struktural cocok dengan pengulangannya pada akhir bagian pertama pelayanan Yesus di Galilea (5:1-9:34), pengajaran diutamakan di antara kegiatan-kegiatan Yesus (4:23) . Meskipun referensi mengenai Yesus sebagai guru jumlahnya hampir sama dengan Markus, Matius telah mengatur ulang garis besar dan isinya sehingga dapat menampilkan Yesus dalam peran tersebut dengan lebih jelas. Setelah ringkasan pembukaan (4:23-25), Matius menyajikan Khotbah di Bukit beserta tiga bab bahan ajarnya (5:1-7:29). Khotbah ini diakhiri dengan ringkasan pernyataan bahwa Yesus “mengajar” dengan otoritas (7:29). Judul keseluruhan Injil sebagai “kitab” (biblos) memberikan kontribusi terhadap kesan ini, seperti halnya lima organisasi seputar khotbah-khotbah utama Yesus mengenai topik pemuridan (5:1-7:29; 10:1-42; 13: 1-58; 18:1-35; 24:1-25:46). Oleh karena itu penting bahwa, meskipun para murid telah ditugaskan untuk berkhotbah dan menyembuhkan dalam nama Yesus (10:1, 7-8), dalam Amanat Agung di akhir Injil, untuk pertama kalinya, para murid diberi wewenang untuk “ mengajar” dalam nama Yesus (28:18-20).
Kebijaksanaan
Khususnya dalam materi khususnya, tema hikmat membentuk pemahaman Matius tentang pelayanan Yesus dan kabar baik kerajaan. Khotbah di Bukit diakhiri dengan gambaran kontras antara “bijaksana” dan “bodoh”, yang menyamakan orang bijak dengan mereka yang “mendengar” dan “melakukan” kehendak Allah (7:24-27). Sebagaimana tradisi mengetahui bahwa “takut akan Tuhan adalah permulaan kebijaksanaan,” demikian pula Perintah Agung menggabungkan dua kewajiban untuk “mengasihi Tuhan… dengan segenap hatimu… dan sesamamu seperti dirimu sendiri” (22:37- 39). Berbekal “hikmat” tersebut, para murid keluar dengan instruksi untuk menjadi “bijaksana seperti ular dan tulus seperti merpati” (10:16). Namun mereka datang dengan kesadaran bahwa hikmat sejati adalah anugerah Allah, “tersembunyi…dari orang-orang bijaksana” namun dinyatakan kepada mereka yang, seperti bayi, menerima kerajaan dalam kerendahan hati (11:25; 18:3-4). Seperti yang diingatkan Petrus dalam teguran Yesus, hikmah yang paling utama adalah melihat di balik penderitaan dan kematian Mesias yang tersembunyi, hal itu merupakan karya penyelamatan Allah (16:24-25).
Kegelapan Luar dan Tungku Api
Pada akhir dari banyak perumpamaan penghakiman dalam Matius, Yesus menyatakan bahwa orang jahat akan “dilemparkan ke dalam kegelapan bagian luar/tungku api, di mana akan ada tangisan dan kertakan gigi.” Bahasa ini unik dalam Injil Matius (Lukas mempunyai satu contoh “menangis dan mengertakkan gigi,” namun tidak berhubungan dengan kegelapan luar atau tungku api, Lukas 13:28). Bahasa ini berhubungan dengan visi Matius tentang akhir zaman dan penghakiman, dan beberapa pembaca modern merasa tidak nyaman dengan nasib yang diberikan Matius kepada orang-orang di luar komunitas tersebut. Meskipun benar bahwa ada pihak luar yang terlibat, penelitian terbaru mengenai bahasa penilaian Matius berfokus pada bagaimana bahasa ini sebenarnya ditujukan kepada orang-orang di dalam komunitas. Bahasa ini paling baik dipahami dalam konteks seruan Matius untuk melakukan kebajikan yang lebih besar dan pelayanan kepada sesama di pihak para pengikut Yesus. Matthew menggunakan bahasa emosional yang jelas ini untuk mengingatkan orang dalam bahwa status orang dalam mereka disertai dengan tanggung jawab yang besar, dan bahwa nasib yang tidak diinginkan menanti mereka jika mereka mengabaikan panggilan untuk kebenaran dan pelayanan.
ALKITAB DI DUNIA – INJIL MATIUS
Petrus dan Kunci Kerajaan
Berbeda dengan gambaran ambigu tentang dirinya yang disajikan oleh Markus, Injil Matius menyoroti pentingnya Petrus di antara kedua belas murid. Beberapa episode menonjol, termasuk Petrus berjalan di atas air (14:22-33), namun kisah Matius dengan pengaruh terbesar pada sejarah gereja kemudian muncul dalam Matius 16. Dalam Markus (Markus 8:27-30), pernyataan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias yang ditanggapi dengan “perintah tegas” untuk tidak memberi tahu siapa pun tentang Yesus. Sebaliknya, dalam Matius, Yesus memberkati pernyataan Petrus, memanggilnya dengan nama lengkap Aramnya, Simon Bar Jonah (Simon, putra Yunus). Yesus melanjutkan dengan melontarkan plesetan pada nama Yunani, Petrus, dengan menyatakan bahwa Dia akan membangun pertemuannya di atas “batu karang” yang dalam bahasa Yunani adalah petra. Dan yang terakhir, Yesus menjanjikan kepada Petrus “kunci kerajaan”. Pada zaman kuno akhir, gereja di Roma menjadi terkenal karena tradisi bahwa Petrus mendirikan gereja, menjabat sebagai uskup, dan kemudian menjadi martir di sana. Para uskup Roma kemudian memandang diri mereka sebagai penerus Petrus; karena kedudukan Petrus yang unggul di antara para murid, para penerus Petrus ini mengambil gelar “Paus” (artinya “ayah”) untuk menunjukkan kedudukan otoritas mereka atas para uskup lainnya. Para Paus menelusuri akar otoritas mereka hingga Matius 16, dengan alasan bahwa dalam ayat ini, Yesus memberikan “kunci kerajaan” hanya kepada Petrus, yang kemudian mendelegasikan otoritasnya kepada murid-murid lainnya. Dalam tradisi Ortodoks, jabatan kunci dipahami didistribusikan secara merata di antara semua rasul, dan banyak denominasi Protestan, mengikuti Martin Luther, berpendapat bahwa jabatan ini adalah milik semua orang Kristen melalui imamat semua orang percaya.
Doa Bapa Kami dalam Ibadah dan Musik
Dari semua doa dalam Alkitab, Doa Bapa Kami yang disampaikan dalam Matius 6 mempunyai klaim yang kuat memiliki pengaruh yang paling luas dalam kehidupan doa gereja Kristen. Doa Bapa Kami dimasukkan dalam katekismus Kristen paling awal, Didache, dari akhir abad pertama/awal abad kedua dan tetap menjadi bagian integral dari ibadah dalam tradisi liturgi timur dan barat selama hampir 20 abad. Versi yang digunakan dalam ibadah Protestan modern didasarkan pada teks Matius 6:9-13, meskipun permohonan “ampunilah kami atas dosa-dosa kami” dari Lukas 11:4, sering kali menggantikan permohonan Matius “ampunilah kami atas hutang kami.” Alkitab King James, yang memberikan pengaruh kuat pada ibadah dalam bahasa Inggris melalui Buku Doa Umum, didasarkan pada manuskrip yang menyertakan doksologi di akhir doa: “Karena milikmulah kerajaan dan kuasa dan kemuliaan, selama-lamanya dan pernah. Amin." Penemuan manuskrip-manuskrip terdahulu yang tidak memiliki doksologi ini membuat para ahli berspekulasi bahwa doksologi tersebut ditambahkan oleh ahli-ahli Taurat yang menulis doa berdasarkan hafalan dan terbiasa membacakan doksologi dalam ibadah. Doa Bapa Kami sering kali diiringi musik. Salah satu setting paling populer ditulis pada tahun 1935 oleh komposer Albert Hay Malotte, seorang komposer film untuk studio Disney.
Injil Menurut St. Matius oleh Pier Paolo Pasolini
Pada tahun 1964, penyair dan pembuat film Italia Pier Paolo Pasolini mengejutkan para pengkritiknya dengan merilis sebuah film berdasarkan Injil Matius. Pasolini, seorang ateis dan Marxis yang terang-terangan merupakan seorang gay, baru-baru ini dihukum dan didenda karena menghina agama negara karena perannya sebagai Passion dalam filmnya La Ricotta. Pasolini merasa bahwa kritik sosial dan rasa hormatnya terhadap warisan Kristen di Italia telah diabaikan, dan sebagai tanggapannya, ia menulis dan memproduksi sebuah film yang secara ketat berpegang pada teks Injil Matius. Difilmkan dengan gaya realistis dengan aktor non-profesional, Pasolini bermaksud agar film tersebut menceritakan kembali kehidupan Kristus dan mengomentari dua ribu tahun sejarah Kristen di Italia selatan. Film ini tidak dimaksudkan untuk mereproduksi latar Yudea abad pertama. Sebaliknya, Pasolini merujuk pada penggambaran artistik dari berbagai era sebagai inspirasi kostum dan penampilan karakter dalam film tersebut. Selain itu, skor film ini memanfaatkan musik religi dari berbagai waktu dan dunia, termasuk latar misa di Kongo dan musik blues dari Amerika Selatan. Injil Menurut St. Matius dianggap sebagai pembuatan film klasik neorealis.
Tiga Orang Bijaksana
Matius tidak merinci jumlah “orang bijak dari Timur” yang datang mengunjungi Yesus di Betlehem (2:1). Beberapa tradisi Kristen, misalnya gereja Siria, berasumsi bahwa ada dua belas pengunjung, karena dua belas adalah angka yang dikaitkan dengan kelengkapan teks alkitabiah (misalnya, dua belas suku Israel dan dua belas murid). Namun dalam agama Kristen Barat, tiga hadiah yang dipersembahkan kepada Yesus (emas, kemenyan, dan mur) menyebabkan berkembangnya tradisi yang menampilkan tiga orang bijak. Selain tidak menyebutkan jumlah pengunjung, Matius juga tidak menyebutkan bahwa mereka adalah raja. Ia menyebut mereka sebagai magoi, sebuah kata Yunani yang dapat berarti ahli sihir atau ahli nujum (satu-satunya penggunaan kata tersebut dalam Perjanjian Baru adalah dalam kisah Simon Magus dalam Kisah Para Rasul 13). Tradisi bahwa laki-laki adalah raja mungkin muncul karena kaitannya dengan Yesaya 60:1-6 yang juga menggambarkan raja membawa emas dan kemenyan sebagai persembahan. Tradisi selanjutnya bahkan memberi nama dan kerajaan kepada orang bijak: Balthasar, raja Arabia, Caspar, raja India, dan Melchior, raja Persia. Dalam banyak penggambaran Kelahiran Yesus oleh umat Kristiani di Amerika, tiga orang bijak telah ditambahkan ke adegan kandang dari Lukas 2, namun dalam tradisi Kristen lainnya, mereka dirayakan pada tanggal 6 Januari selama Hari Raya Epiphany. Di belahan dunia berbahasa Spanyol, terdapat tradisi anak-anak menerima hadiah pada Malam Epiphany dari Tiga Raja (Los Tres Reyes). Lagu Kami Tiga Raja menceritakan versi khayalan perjalanan orang bijak mengunjungi bayi Yesus.
St Yosef si Tukang Kayu
Meskipun Yusuf disebutkan dalam Matius dan Lukas, hanya Injil Matius yang menceritakan peran pentingnya dalam menjaga bayi Yesus dan ibunya, Maria. Matius juga memberikan informasi mengenai pekerjaan Yusuf, ketika masyarakat Nazaret menyebut Yesus sebagai “anak tukang kayu” (13:55). Meskipun pendudukan Yunani yang dimaksud, tekton, dapat merujuk pada berbagai jenis perajin, tradisi-tradisi yang berasal dari Justin Martyr pada abad kedua, menyebut Yusuf sebagai pembuat kuk dan bajak, yaitu seseorang yang membuat perkakas dari kayu. Pemahaman tentang pekerjaan Yusuf menjadi tema populer dalam seni Kristen. Penggambaran Yusuf dan Yesus yang sedang bekerja sebagai tukang kayu adalah salah satu sumber utama pengetahuan tentang peralatan pertukangan kayu pra-modern. Pada Abad Pertengahan, cerita tentang Yusuf dalam Matius menyebabkan berkembangnya pengabdian kepada Yusuf sebagai orang suci. Umat Katolik Roma merayakan hari rayanya pada tanggal 19 Maret dan dia dianggap sebagai pelindung gereja dan santo pelindung kematian yang suci. Di Sisilia, kacang fava secara tradisional disajikan untuk menghormati Joseph (San Giuseppe dalam bahasa Italia) sebagai bagian dari sup yang disebut Maacu di San Giuseppe.
Serigala Berbulu Domba
Di negara-negara berbahasa Inggris, peringatan Yesus untuk “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu, yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (7:15) telah menjadi ungkapan pepatah. Menyebut seseorang sebagai “serigala berbulu domba” sudah beralih dari ranah agama “nabi palsu” menjadi kutukan sederhana terhadap orang-orang yang berbahaya meskipun penampilan mereka tidak berbahaya. Asal usul frasa ini terkadang salah dikaitkan dengan Fabel Aesop. Meskipun Aesop memuat banyak referensi tentang gembala dan serigala, tidak ada satu pun dongeng yang menyebutkan serigala yang menyamar sebagai domba.
Gairah St. Matius
Injil Matius mengilhami komposer Johann Sebastian Bach untuk menulis salah satu dari dua oratorio sucinya tentang sengsara (yang lainnya adalah St. John Passion). Matthew Passion adalah setting musik dari Matius 26 & 27. Karakter yang berbeda, termasuk narator, ditugaskan untuk solois, dan solois ini diiringi oleh dua paduan suara (sekitar 20 penyanyi) dan dua orkestra. Dengan cara yang rumit, Bach merangkai kisah gairah bersama-sama, menggunakan frasa musik untuk menekankan dan mengkhotbahkan bagian-bagian berbeda dari teks. Selain teks Injil Matius, Passion menampilkan paduan suara Lutheran yang diselingi, terutama karya penulis himne Paul Gerhardt. Beberapa paduan suara yang ditampilkan dalam St. Matthew Passion adalah Ah Yesus yang Kudus, KepadaMu, Tuhan, aku telah menaruh kepercayaanku, dan belum Tenggelam, Jiwaku, untuk Tertidur. Namun, tempat kebanggaan diberikan kepada O Sacred Head, Now Wounded karya Gerhardt, yang muncul setengah lusin kali sepanjang Sengsara.
Panggilan Santo Fransiskus
Itu adalah bagian dari Injil Matius yang mengilhami Santo Fransiskus dari Assisi untuk mendirikan ordo religius yang sekarang menyandang namanya. Sebelum mendirikan Fransiskan, Fransiskus memulai kehidupan religiusnya dengan berziarah ke Roma, di mana ia mengemis di luar Basilika Santo Petrus. Tak lama kemudian, dia mulai mendapat serangkaian penglihatan mistis. Yang pertama, yang terjadi di kapel San Damiano, membuat Fransiskus meninggalkan ayahnya, menyerahkan warisannya dan menjalani hidupnya sebagai seorang yang bertobat. Penebusan dosa khusus yang dia pilih adalah memulihkan kapel yang hancur. Panggilan Injil Matius datang pada tahun 1208 ketika Fransiskus mendengarkan Misa di kapel St. Bacaan hari itu adalah instruksi Yesus kepada kedua belas murid ketika mereka pergi untuk berkhotbah kepada “domba-domba yang hilang dari kaum Israel” (Matius 10:1-15). Selama pembacaan ini, Fransiskus dikukuhkan dalam kaul kemiskinannya melalui perintah Yesus untuk “Jangan membawa emas, atau perak, atau tembaga di ikat pinggangmu,” dan yakin bahwa dia dipanggil bukan hanya untuk melakukan penebusan dosa, namun juga untuk berkhotbah. Setelah itu dia berkeliling pedesaan Umbria dengan pakaian petani dan segera mulai menarik pengikut. Fransiskus menyusun peraturan tentang cara hidup mereka, Regula Primitiva, yang kemudian menjadi Peraturan Santo Fransiskus. Meskipun teks asli peraturan tersebut telah hilang, Peraturan Santo Fransiskus yang belakangan menunjukkan bahwa seruan untuk menjadi miskin dalam Matius 19:21 dan seruan untuk menyangkal diri dalam Matius 16:24 merupakan landasan pemikiran Fransiskus.
Amanat Agung dan Misi Daratan Tiongkok
Di akhir Injil Matius, Yesus memerintahkan murid-muridnya untuk “menjadikan semua bangsa murid-Nya dan membaptis mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (28:19). Sepanjang sejarah gereja Kristen, perintah ini telah mengilhami para misionaris untuk menjelajah orang-orang di luar tanah air mereka dan memberitakan Injil kepada mereka. Di negara-negara berbahasa Inggris, perintah ini dikenal sebagai “Amanat Agung.” Tidak jelas siapa yang pertama kali menciptakan nama ini, namun nama ini menjadi populer pada abad ke-19, melalui karya misionaris James Hudson Taylor. Taylor adalah seorang misionaris ke Tiongkok pada paruh kedua abad ke-19. Ia menjadi terkenal karena praktik misinya yang tidak biasa (pada saat itu), termasuk mengenakan pakaian Tiongkok, mempelajari berbagai dialek Tiongkok, dan secara umum menganut budaya Tiongkok. Karena metodenya tidak menarik kepekaan kelas atas Inggris, Taylor mendirikan organisasi misinya sendiri yang disebutnya China Inland Mission. Kata “Pedalaman” dalam namanya mengacu pada tujuan Taylor bekerja di pedalaman Tiongkok, jauh dari otoritas kolonial di kota-kota pelabuhan. Seperti Peraturan Santo Fransiskus, prinsip pengorganisasian Misi Pedalaman Tiongkok didasarkan pada perintah yang dikeluarkan Yesus dalam Matius. Taylor dan Francis, bagaimanapun, berbeda dalam interpretasi mereka terhadap Matius 19:21. Jika Paus Fransiskus melihatnya sebagai seruan menuju kemiskinan, Taylor menafsirkannya sebagai misionaris yang harus bergantung pada Tuhan untuk menyediakan kesejahteraan duniawi mereka, bukan pada badan gereja yang sudah mapan. Misi China Inland terkenal dalam beberapa hal: ini merupakan lembaga misi non-denominasi, menerima kelas pekerja sebagai misionaris dan juga mengizinkan perempuan lajang untuk mengambil bagian dalam pemberitaan Injil.
Waktu Pengangkatan
Dimulai pada pertengahan abad ke-19, konsep “pengangkatan” menjadi semakin menonjol di beberapa cabang Kekristenan Fundamentalis Amerika. Berdasarkan 1 Tesalonika 4:15-17, pengangkatan adalah keyakinan bahwa orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan dipisahkan dari orang yang tidak percaya untuk bersama Kristus. Nama “pengangkatan” berasal dari kata Yunani “diangkat” dalam 1 Tesalonika 4:17. Teologi pengangkatan mengalami kebangkitan pada akhir abad ke-20 dengan buku Hal Lindsey The Late Great Planet Earth dan seri Left Behind karya Tim LaHaye. Salah satu poin perdebatan dalam teologi pengangkatan adalah apakah pengangkatan dan kedatangan Kristus yang kedua kali itu identik. Matius 24:37-42 memainkan peranan penting dalam argumen ini. Para komentator berbeda pendapat mengenai apakah deskripsi laki-laki yang diambil dari ladang dan perempuan yang diambil dari penggilingan tepung (Matius 24:40-41) mengacu pada pengangkatan atau kedatangan Kristus pada akhir milenium (di sini dipahami sebagai seribu tahun pemerintahan perdamaian di bumi). Bergantung pada pendirian mereka, para komentator ini telah mengurutkan diri mereka ke dalam berbagai posisi, termasuk, namun tidak terbatas pada: premillennialisme (pengangkatan akan terjadi sebelum perdamaian di bumi dan kedatangan Kristus), postmillennialisme (pengangkatan dan kedatangan kedua kali akan terjadi pada saat yang sama setelah seribu tahun perdamaian di bumi) dan amillennialisme (pengangkatan adalah cara metaforis untuk menggambarkan keadaan kedatangan kedua kali dan tidak ada perdamaian seribu tahun di bumi).
Talenta
Dalam bahasa Inggris, kata “talent” mengacu pada keterampilan atau kemampuan khusus yang dimiliki seseorang. Kita menganggap seseorang “berbakat” ketika mereka memiliki kemampuan alami terhadap sesuatu, bukan keterampilan yang dikembangkan melalui latihan. Namun, kata “bakat” pada awalnya tidak ada hubungannya dengan keterampilan. Kata ini berasal dari kata Yunani, talanton, yang berarti satuan uang yang besar. Meskipun nilai talenta berbeda-beda tergantung pada waktu dan tempat pencetakannya, nilainya selalu relatif tinggi. Dalam Injil, talenta bernilai sekitar 6.000 dinar dan satu dinar lebih besar dari upah pekerja dalam sehari. Dengan kata lain, untuk mengumpulkan satu talenta, seorang pekerja harian harus bekerja setiap hari tanpa istirahat selama lebih dari 16 tahun. Talenta sebagai satuan uang muncul di beberapa bagian dalam Injil Matius dan satu bagian khususnya, yang disebut Perumpamaan tentang Talenta (25:14-30), bertanggung jawab atas arti modern dari kata tersebut. Dalam perumpamaan itu sendiri, kata tersebut mengacu pada uang yang dipercayakan kepala rumah tangga kepada budaknya. Namun, pemberitaan tentang perumpamaan ini biasanya tidak menekankan investasi moneter. Sebaliknya, para pengkhotbah sering kali menekankan gagasan metaforis tentang Tuhan yang mempercayakan orang Kristen dengan kemampuan untuk membantu sesamanya. Metafora bakat ini telah mengarah langsung pada gagasan Inggris modern tentang bakat sebagai kemampuan alami.
Surat dari Penjara Birmingham
Surat Pendeta Dr. Martin Luther King Jr. dari Penjara Birmingham, yang ditulis pada tahun 1963, merupakan sebuah tour de force sastra. Dalam argumennya mengenai perlunya protes di Birmingham, Dr. King mengacu pada contoh-contoh dari zaman klasik seperti Socrates dan para tokoh tradisi teologi barat mulai dari Agustinus hingga Aquinas. Namun, inti suratnya adalah teladan Yesus, khususnya sebagaimana tercermin dalam Injil Matius dan Khotbah di Bukit. Ia mengingatkan para pengritiknya bahwa ia berbicara “sebagai seorang pelayan Injil yang mencintai gereja, yang diasuh dalam pelukannya, yang telah ditopang oleh berkat-berkat Rohani, dan yang akan tetap setia pada gereja selama tali kehidupan masih ada. memperpanjang." Dihadapkan pada tuduhan bahwa ia mewakili ekstremisme agama, Dr. King kembali ke teladan Yesus dan khotbahnya dalam Khotbah di Bukit. Dengan kekuatan retoris, ia bertanya, “Bukankah Yesus seorang ekstremis karena cinta?” dan menjawab pertanyaannya sendiri dengan mengutip Matius 5:44 “Kasihilah musuhmu, berkatilah mereka yang mengutuk kamu, doakanlah mereka yang memanfaatkan kamu.”
Biaya Pemuridan
Meskipun buku ini dikenal di dunia berbahasa Inggris sebagai The Cost of Discipleship, ketika Dietrich Bonhoeffer menerbitkannya pada tahun 1937, ia memberinya judul satu kata: Nachfolge. Nachfolge adalah kata dalam bahasa Jerman yang berarti “emulasi” atau “imitasi.” Oleh karena itu, judul dalam bahasa Jerman membantu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh judul dalam bahasa Inggris: Berapa biaya pemuridan? Bagi Bonhoeffer, harga yang harus dibayar untuk menjadi seorang murid adalah dengan meniru Kristus, mengikuti Dia sesuai dengan Injil, dan dia mendasarkan jawaban ini pada Khotbah di Bukit dalam Injil Matius. Biaya Pemuridan, dalam banyak hal, merupakan eksposisi dari Khotbah di Bukit, yang membantu pembaca memahami tuntutan radikal yang Yesus berikan kepada murid-muridnya. Berbeda dengan banyak penafsir lainnya, Bonhoeffer menyadari bahwa Khotbah di Bukit bukanlah etika umum dalam hidup di dunia. Khotbah ini disampaikan hanya kepada para murid (5:1) dan memanggil mereka kepada kehidupan yang melebihi “kasih karunia murahan” yang ditawarkan dunia. Dengan kata lain, etika Yesus bukanlah “aturan emas” universal, namun sebuah panggilan untuk menjadi murid yang mahal. Pemuridan adalah hal yang mahal bagi Bonhoeffer karena itu berarti memikul “kuk Kristus” (11:29) dan mengikuti jejaknya di jalan penyangkalan diri dan salib.
Karunia Orang Majus
Cerpen, “The Gift of the Magi” karya O. Henry pada awalnya tampak seperti kisah Natal sentimental tentang kelemahan cinta. Namun pada akhirnya, narator mendobrak tembok keempat dari kisah tersebut dan menyatakan dirinya sebagai seorang kritikus alkitabiah. Kisah ini diakhiri dengan komentar terhadap teks Alkitab yang menjadi judulnya (2:1-12). O. Henry mengolok-olok orang Majus, menyebut mereka sebagai penemu “seni memberi hadiah Natal” dan memastikan pembacanya bahwa hadiah mereka datang dengan “hak istimewa untuk ditukar” (atau dalam istilah modern: tanda terima hadiah). Dengan komentar-komentar ini, Henry membaca teks Alkitab dengan sendirinya, mencatat bahwa pemberian orang majus (emas, kemenyan, dan mur) tidak banyak berguna bagi Yesus dalam perjalanan panjang menuju Golgota. Sebaliknya, ia menunjukkan seruan yang Yesus berikan untuk cinta yang memberi diri, cinta yang ditunjukkan oleh kedua karakternya melalui pengorbanan yang mereka lakukan untuk membeli hadiah Natal untuk satu sama lain. Komentar Henry bahwa Della dan Jim “dengan tidak bijaksana mengorbankan harta terbesar di rumah mereka demi satu sama lain,” mungkin juga merujuk pada perumpamaan Matius tentang mutiara dan ladang (13:44-46). Dalam kedua perumpamaan ini, tokoh utama menjual semua miliknya untuk membeli sesuatu yang jauh lebih bernilai, seperti yang dilakukan Della dan Jim. Melalui sindiran dan komentarnya, Henry mengangkat kisahnya dari sisi sentimental dan menjadikannya sebuah perumpamaan tentang cinta yang berkorban.
Tuan dan Margarita
YMCA Press di Paris adalah sebuah penerbit kecil yang dijalankan oleh para emigran Rusia. Pada tahun 1973 menjadi terkenal karena penerbitan Gulag Archipelago oleh Aleksandr Solzhenitzen, karya yang menunjukkan kepada dunia kebrutalan Marxisme Soviet. Namun, sebelum itu, majalah ini terutama menerbitkan pembangkang agama Rusia, yang beberapa di antaranya juga dianggap sebagai sastra klasik dunia. Yang paling utama di antara buku-buku ini adalah The Master dan Margarita oleh Mikhail Bulgakov. Novel Bulgakov menyatukan alur cerita modern yang mencerminkan pengalamannya sebagai penulis Soviet yang tertindas, dengan alur cerita kuno yang menyerang propaganda ateis Uni Soviet, khususnya penggambaran Yesus. Dalam alur cerita kuno, Bulgakov memparodikan “beasiswa” Soviet tentang Yesus dengan menceritakan kembali penderitaan dalam Injil Matius melalui sudut pandang Pontius Pilatus. Meskipun novel ini menunjukkan simpati kepada Pilatus, novel ini mengkritik kurangnya pemahamannya tentang Yesus dan kepengecutannya dalam menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Kurangnya pemahaman dan kepengecutan dalam diri Pilatus tercermin dalam karakterisasi alur cerita modern para intelektual Soviet. Melalui refleksi terhadap Injil Matius, Bulgakov menulis sebuah mahakarya literatur pembangkang yang menunjukkan ketahanan iman Kristen dalam menghadapi Marxisme dan klaimnya atas pemahaman ilmiah tentang sejarah.
Leo Tolstoy
Novelis Rusia Leo Tolstoy adalah salah satu tokoh yang terinspirasi oleh etika Khotbah di Bukit. Dikenal karena novel epiknya War and Peace dan Anna Karenina, Tolstoy mengalami kebangkitan spiritual pada awal tahun 1880-an yang mendorongnya untuk menjadikan Khotbah di Bukit sebagai pusat hidupnya dan meluncurkannya ke jalan menuju pasifisme Kristen dan kemiskinan sukarela. Seperti Santo Fransiskus sebelumnya, Tolstoy memahami perintah Yesus dalam Matius 10:9 yang mengartikan bahwa orang Kristen harus meninggalkan kekayaan. Meskipun terlahir sebagai bangsawan dan pewaris tanah besar di Rusia, ia berusaha melepaskan warisannya sendiri dan juga melepaskan hak cipta atas novel-novel suksesnya. Ia memanfaatkan bakat sastranya untuk menyebarkan keyakinan Kristennya, menulis karya seperti What I Believe dan The Kingdom of God is Within You, yang keduanya memaparkan filosofi perlawanan tanpa kekerasan. Filosofi ini sangat mempengaruhi kehidupan dan karya tidak hanya Mahatma Gandhi, tetapi juga Martin Luther King Jr.
bottom of page