top of page

YESUS LAHIR DI BETLEHEM
PARA GEMBALA MENGUNJUNGI BAYI YESUS
Penguasa Romawi, Kaisar Agustus, memerintahkan agar setiap orang didaftarkan. Jadi, Yusuf dan Maria harus pulang ke kota kelahiran Yusuf, yaitu Betlehem, di sebelah selatan Yerusalem.
Karena Betlehem penuh dengan orang-orang yang mau mendaftarkan diri, satu-satunya tempat yang bisa digunakan Yusuf dan Maria untuk bermalam adalah sebuah kandang untuk keledai dan binatang lainnya. Di sanalah Yesus dilahirkan. Maria membungkus dia dengan kain dan membaringkannya di palungan, yaitu tempat makan binatang.
Jelas, Yehuwa-lah yang mengatur agar Kaisar Agustus membuat undang-undang pendaftaran ini. Dengan begitu, Yesus dapat dilahirkan di Betlehem, kampung halaman leluhurnya, Raja Daud. Kitab Suci telah lama menubuatkan bahwa Betlehem akan menjadi kota kelahiran sang Penguasa yang dijanjikan.—Mikha 5:2.
Ini benar-benar malam yang istimewa! Di luar, di padang rumput, cahaya cemerlang tiba-tiba memancar di sekeliling para gembala yang sedang berkumpul. Itu adalah kemuliaan Yehuwa! Seorang malaikat memberi tahu para gembala itu, ”Jangan takut! Aku membawa kabar baik tentang sukacita besar yang akan dirasakan semua orang. Sebab hari ini, di kota Daud telah lahir bagi kalian seorang penyelamat. Dia adalah Kristus dan Tuan. Inilah tanda bagi kalian: Kalian akan menemukan bayi yang terbungkus kain dan berbaring di palungan.” Lalu, malaikat-malaikat datang dan mengatakan, ”Kemuliaan bagi Allah di surga, dan damai di bumi bagi orang-orang yang menyenangkan Dia.”—Lukas 2:10-14.
Anak yang Dijanjikan
LUKAS 2:21-39
”KETIKA TIBA WAKTUNYA UNTUK MEMBERSIHKAN DIRI”
Setelah wanita Israel melahirkan, mereka dianggap najis selama beberapa waktu. Pada akhir masa itu, dia harus mempersembahkan korban bakaran untuk membersihkan diri. Dengan begitu, semua orang diingatkan bahwa bayi yang baru lahir itu tidak sempurna, seperti orang tuanya. Tapi, bayi Yesus sempurna dan kudus. (Lukas 1:35) Meski begitu, Maria dan Yusuf ”membawa anak itu” ke bait dan ”membersihkan diri” seperti yang diwajibkan Taurat.—Lukas 2:22.

Di bait, seorang pria lanjut usia mendekati Yusuf dan Maria. Namanya Simeon. Allah telah memberi tahu dia bahwa sebelum dia mati, dia akan melihat Kristus, atau Mesias, yang Yehuwa janjikan. Pada hari itu, Simeon dibimbing oleh kuasa kudus untuk masuk ke bait. Di sana, dia bertemu Yusuf dan Maria yang membawa bayi mereka. Simeon kemudian menggendong bayi itu.
Sambil menggendong Yesus, Simeon bersyukur kepada Allah, ”Tuan Yang Mahatinggi, sekarang budak-Mu ini bisa mati dengan tenang sesuai dengan apa yang Engkau katakan, karena mataku telah melihat keselamatan yang telah Engkau persiapkan di hadapan segala bangsa. Dia adalah terang untuk menyingkirkan kegelapan yang menutupi bangsa-bangsa, dan dialah kemuliaan bagi umat-Mu Israel.”—Lukas 2:29-32.
Yusuf dan Maria takjub mendengarnya. Simeon memberkati mereka dan memberi tahu Maria bahwa karena anaknya, ”ada orang Israel yang akan jatuh dan ada yang akan bangkit”. Simeon juga mengatakan bahwa suatu saat Maria akan merasa sangat pedih, bagaikan ditusuk sebilah pedang yang tajam.—Lukas 2:34.
Di tempat itu juga ada Hana, seorang nabiah yang berumur 84 tahun. Dia selalu datang ke bait. Hari itu, dia juga menghampiri Yusuf, Maria, dan bayi Yesus. Hana pun bersyukur kepada Allah dan berbicara tentang Yesus kepada semua yang mau mendengarkan.
Saudara bisa bayangkan betapa senangnya Yusuf dan Maria setelah mengalami semua itu! Mereka pasti semakin yakin bahwa putra mereka adalah Mesias yang dijanjikan oleh Allah.
Menurut kebiasaan orang Israel, kapan bayi laki-laki diberi nama?
Apa yang harus dilakukan seorang ibu Israel pada waktu putranya berumur 40 hari? Apa yang kita ketahui tentang keadaan ekonomi Maria?
Di bait, siapa saja yang mengenali Yesus, dan apa yang mereka lakukan?
bottom of page